Iran mengancam akan memberikan tamparan lebih keras Amerika Serikat (AS) jika melanggar kesepakatan perdamaian. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan Teheran tidak akan menoleransi AS jika melanggar nota kesepahaman atau memorandum of understanding (Mou).
"Jika terjadi iktikad buruk, pelanggaran kontrak, dan tuntutan berlebihan dari pihak lawan, kami tidak akan ragu untuk memberikan respons yang menghancurkan kepada musuh," kata Ghalibaf dalam sebuah unggahan di X dilansir dari detikNews.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ghalibaf mengatakan AS sudah ditampar berkali-kali selama perang berlangsung. Bila kesepakatan ini dilanggar, kata Ghalibaf, AS akan menerima tamparan lebih keras lagi dari Iran.
"Mereka pernah ditampar selama perang; jika mereka ingin menempuh jalan itu lagi, mereka akan menerima tamparan yang lebih keras lagi," ujar Ghalibaf.
Seperti diketahui, Presiden AS Donald Trump menandatangani nota kesepahaman tersebut saat makan malam dengan Presiden Prancis, Emamanuel Macron, di Istana Versailles setelah pertemuan KTT G7 pada Rabu (17/6) malam.
"Baru saja menandatanganinya," kata Trump saat keluar dari istana, dilansir AFP, Kamis (18/6/2026).
Pemerintah Iran juga mengonfirmasi telah menandatangani dokumen kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan AS. Hal itu diungkapkan juru bicara Kemlu Iran, Esmaeil Baqaei.
"Teks Memorandum of Understanding Islamabad telah diselesaikan dengan tanda tangan para Presiden--sekarang saatnya untuk menguji implementasi perjanjian tersebut," kata Esmaeil.
Baqaei mengatakan penandatanganan telah dilakukan secara elektronik dan jarak jauh oleh kedua Presiden, dan bahwa upacara resmi "tidak banyak memiliki tempat" dalam rencana Iran.
Artikel ini telah tayang di detikNews. Baca selengkapnya di sini!