Layanan shuttle bus Desa Adat Intaran yang melayani penumpang di kawasan Sanur, Denpasar, lebih banyak diminati oleh wisatawan mancanegara (wisman). Jumlah penumpang yang dilayani transportasi publik itu mencapai 150 orang per hari.
"Penumpang lokal jarang. Biasanya Sabtu-Minggu baru banyak," ujar salah satu sopir shuttle, Budi Astawa, Selasa (5/5/2026).
Layanan shuttle yang dikelola Desa Adat Intaran melalui Bhaga Utsaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) Intaran itu mulai beroperasi sejak Agustus 2025. Sebanyak 12 armada dioperasikan setiap hari dari pukul 07.00 hingga 23.00 Wita.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petajuh Pengraksa BUPDA Intaran I Wayan Robi mengakui layanan shuttle bus sebagai transportasi umum belum banyak dilirik warga. Selain itu, ia menyebut masih banyak penumpang yang belum memahami mekanisme shuttle tersebut.
"Karena tidak terbiasa naik public transport, masih perlu diedukasi soal sistemnya," tutur Robi.
Robi menjelaskan tarif shuttle Rp 5.000 berlaku untuk penumpang domestik maupun mancanegara untuk 90 menit perjalanan. Shuttle bus itu berangkat dari Pantai Mertasari kemudian berputar di Pantai Segara Ayu dan kembali berhenti Pantai Mertasari, Sanur.
"Satu kali jalan bolak-balik Mertasari lalu Segara Ayu lalu Mertasari lagi. Nah, sampai Mertasari, penumpang harus pindah ke shuttle lain karena sistemnya bergantian. Satu yang sampai harus berhenti, lalu satunya lagi harus jalan," jelas Robi.
Saat pergantian shuttle, dia berujar, penumpang perlu melakukan tap atau pemindaian kartu kembali sebelum naik. Hal itu bertujuan untuk merekam perjalanan tiap armada.
"Kami ada tarif integrasi. Kalau belum 90 menit, tap kartu pun masih nol, belum terpotong. Tapi mereka kadang udah bingung disuruh tap lagi," kata Robi.
Perluas Wilayah Operasional
BUPDA Intaran berencana memperluas wilayah operasional layanan shuttle bus tersebut hingga ke kawasan permukiman Desa Adat Intaran, tepatnya wilayah Banjar Batursari. Perluasan wilayah operasi itu ditargetkan bisa berlaku mulai satu hingga dua bulan mendatang.
"Jadi, khusus pegawai yang kerja di Jalan Danau Tamblingan bisa pakai shuttle bus untuk commuter," imbuh Robi.
Robi menjelaskan layanan shuttle tersebut bisa beroperasi ke desa adat tetangga dengan sistem kolaborasi atau mendapat persetujuan dari BUPDA setempat. Selain itu, BUPDA Intaran juga membuka kerja sama dengan pengelola akomodasi di kawasan tersebut.
"Misal integrasi layanan ini dengan one day pass. Jadi hotel bayar ke kami, berbeda-beda tergantung kesepakatan. Sejauh ini hotel yang menyelenggarakan event untuk carter. Misal Prama Hotel ada graduation dan lahan parkir terbatas, lalu diarahkan untuk parkir di sentral parkir, nanti kami jemput," imbuhnya.
(iws/iws)










































