detikBali

Pesan Terakhir Jurnalis Republika Sebelum Diculik Tentara Israel

Terpopuler Koleksi Pilihan

Pesan Terakhir Jurnalis Republika Sebelum Diculik Tentara Israel


Tim detikNews - detikBali

Israeli Blackhawk helicopter perform with flag during an air show as part of a graduation ceremony of Israeli pilots at the Hatzerim air force base in the southern Negev desert, near the city of Beersheva,on December 22, 2021. (Photo by Menahem KAHANA / AFP)
Ilustrasi helikopter militer Israel. (Foto: AFP/MENAHEM KAHANA)
Jakarta -

Video SOS dikirim. Setelah itu, dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, hilang kontak saat kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla dicegat tentara Israel (IDF) di perairan internasional.

Redaksi Republika mengungkap komunikasi terakhir dengan kedua jurnalis tersebut terjadi hanya beberapa saat sebelum tentara Israel mendekati kapal mereka.

Wakil Pemimpin Redaksi Republika Stevy Maradona mengatakan komunikasi terakhir dengan Thoudy terjadi pada Senin (18/5) pukul 13.50 WIB melalui WhatsApp. Saat itu, Thoudy masih mengabarkan situasi terkini dari atas kapal yang terus berlayar menuju tujuan misi kemanusiaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Komunikasi dengan Thoudy terakhir itu pukul 13.50 WIB, dia kasih update terkini situasi di kapalnya, karena masih berlayar, kirim foto dan video juga. Dia sempat bilang, kalaupun bakal dicegat tentara IDF, itu Senin malam waktu setempat," kata Stevy saat dihubungi, Senin (18/5/2026), dilansir dari detikNews.

ADVERTISEMENT

Tak lama setelah percakapan itu, komunikasi terputus. Thoudy tak lagi memberi kabar dan tidak dapat dihubungi.

"Nah setelah percakapan ini, hilang kontak. Thoudy-nya nggak bisa dihubungi sama sekali. Dia juga nggak kontak-kontak redaksi lagi. Sudah lebih dari enam jam situasinya," ujarnya.

Stevy menjelaskan Bambang dan Thoudy berada di kapal berbeda. Kapal yang ditumpangi Thoudy juga membawa dua WNI lain, termasuk seorang wartawan Tempo.

Sementara itu, komunikasi terakhir dengan Bambang terjadi pukul 15.20 WIB saat dia mengirim video SOS. Sebelum mengirim video tersebut, Bambang sempat mengirim foto dan video kapal perang yang mendekati kapalnya.

"Nah komunikasi dengan Bambang Noroyono, ini mereka berbeda kapal ya. Kapal Thoudy itu ada 3 WNI, termasuk wartawan Tempo. Dari kapal Abeng, komunikasi terakhir adalah ketika dia kirim video SOS itu pukul 15.20 WIB," tuturnya.

"Beberapa menit sebelum kirim video SOS, Abeng kirim foto dan video soal ada kapal perang yang mendekat ke perahu dia. Baru dia kirim video SOS itu, protokolnya memang demikian dari panitia pusat Global Sumud Flotilla. Kalau ada tentara israel mendekat, naik ke kapal, langsung kirim video SOS itu," lanjutnya.

Hingga Senin malam, kedua jurnalis tersebut belum bisa dihubungi.

"Sampai sekarang pukul 22.00 WIB, kedua jurnalis tidak bisa dihubungi dan menghubungi redaksi Republika," imbuhnya.

Republika Kecam Penangkapan

Republika mengecam keras tindakan tentara Israel yang menangkap Bambang Noroyono dan Thoudy Badai saat menjalankan tugas jurnalistik dalam misi kemanusiaan internasional tersebut.

"Dalam rombongan terdapat sembilan relawan asal Indonesia, termasuk dua jurnalis Republika Bambang Noroyono dan Thoudy Badai yang menjalankan tugas jurnalistik dan kemanusiaan. Keselamatan mereka menjadi perhatian serius kami," kata Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyiddin dalam pernyataannya, Senin (18/5).

Republika menilai tindakan Israel itu merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Kemlu Desak Israel Lepaskan WNI

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI turut mengecam tindakan Israel yang mencegat kapal dan menangkap aktivis dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla.

"Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan Militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur," kata juru bicara 1 Kemlu RI Yvonne Mewengkang dalam keterangannya, Senin (18/5).

Kemlu menyatakan masih terus memantau kondisi WNI yang ikut dalam misi tersebut. Pemerintah Indonesia juga mendesak Israel segera membebaskan seluruh awak kapal dan memastikan bantuan kemanusiaan tetap dapat disalurkan ke Palestina.

"Kementerian Luar Negeri RI mendesak Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan, serta menjamin kelanjutan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Palestina sesuai hukum humaniter internasional," jelasnya.




(dpw/dpw)










Hide Ads