detikBali

Industri Denpasar Tembus 16.882 Unit, Tenaga Terampil Alas Kaki Kurang

Terpopuler Koleksi Pilihan BaliNusra Awards 2026

Industri Denpasar Tembus 16.882 Unit, Tenaga Terampil Alas Kaki Kurang


Maria Christabel DK - detikBali

Kepala Dinas Disperindag Kota Denpasar Ni Nyoman Sri Utari  di Balai Diklat Industri Denpasar, Senin (4/5/2026). Maria Christabel DK/detikBali
Foto: Kepala Dinas Disperindag Kota Denpasar Ni Nyoman Sri Utari di Balai Diklat Industri Denpasar, Senin (4/5/2026). Maria Christabel DK/detikBali
Denpasar -

Jumlah industri di Kota Denpasar pada 2025 mencapai 16.882 unit. Jumlah tersebut meningkat 25,7 persen dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 13.425 unit.

Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar melihat peluang lain dalam industri alas kaki yang masih terbatas. Saat ini, hanya 60 unit yang terdata di tahun 2025 dan 51 di 2024.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masih terbatas tenaga terampil yang menguasai teknik pembuatan pola dan perakitan alas kaki yang standar itu," tutur Ketua Panitia Pelaksanaan Kolaborasi Peningkatan Usaha Industri "Si Putri" Pelatihan Kerajinan (Pembuatan Alas Kaki) Tahun 2026 Tjokorda Istri Agung Diah Kencana Wati, Senin (4/5/2026).

Berkolaborasi dengan Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar, pelaksanaan pelatihan berjalan selama lima hari hingga 8 Mei 2026. Melibatkan 20 orang pelaku usaha dari Industri Kecil Menengah (IKM) Kota Denpasar yang bergerak di sektor kerajinan dan pemula.

ADVERTISEMENT

"Nanti ada macam-macam materi, dari teori design thinking, teknik pembuatan sepatu, fotografi produk, sampai social media marketingnya juga," jelas Tjok.

Pelatihan ini bertujuan untuk menghasilkan produk lebih kompetitif dan bernilai tambah dengan memanfaatkan kain tenun endek Bali. Selain itu juga memperluas pasar global dan anak muda melalui aplikasi desain alas kaki modern yaitu sneakers.

"Nanti berlanjut. Setelah selesai pelatihan, nanti kami akan bentuk kelompok agar mudah koordinasi dengan pengrajin. Nanti kami dampingi mereka, setelah mereka produksi, kami pasarkan," tutur Kepala Dinas Disperindag Kota Denpasar Ni Nyoman Sri Utari ketika diwawancarai detikBali, Senin.
Utari menambahkan bahwa strategi pemasaran dapat lakukan melalui festival hingga booth dalam ragam event seperti yang diadakan perkantoran dan perbankan,

"Ke depannya nanti kami juga koordinasi dengan Kepala Dinas Pariwisata, kami akan merambah hotel-hotel, sehingga mereka akan menyediakan booth-booth untuk promosi," imbuh Utari.

Meski begitu, Utari menuturkan bahwa industri saat ini tengah alami krisis tenaga kerja. Ia menilai bahwa generasi sekarang cenderung memilih hal yang praktis dari adanya digitalisasi media.

"Anak generasi Z sekarang, lebih senang secara digital. Mereka cari yang praktis dan cepat menghasilkan. Kami biasanya sosialisasi door to door ke pelaku usaha industri binaan kami dan organisasi untuk pendekatan," jelas Utari.

Ia menyebutkan salah satu contoh berhasil yaitu Kwace Bali. Salah satu industri sektor pakaian yang melibatkan kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sebagai tenaga penenun.

Di sisi lain, industri kain tenun di Kota Denpasar masih terbatas, hanya tercatat di tahun 2025 hanya 15 usaha. Hal ini sekaligus sebagai upaya untuk memastikan industri tenun memiliki ekosistem hilir yang kuat di sektor kriya dan mode.

"UMKM sendiri kan banyak jadi peluang usaha. Perkembangan sektor kreatif saat ini luar biasa, dan apapun yang didapat dari pelatihan ini pastinya berdampak sangat positif," ucap Wakil Ketua Harian Dekranasda Kota Denpasar I Gusti Ayu Putu Swandewi Edy Mulya ketika ditemui tim detikBali selepas pembukaan pelatihan.




(nor/nor)










Hide Ads