detikBali

Green Hotel Jadi Standar Baru bagi Turis yang Menginap ke Denpasar

Terpopuler Koleksi Pilihan

Green Hotel Jadi Standar Baru bagi Turis yang Menginap ke Denpasar


Sui Suadnyana, Maria Christabel DK - detikBali

Ilustrasi hotel
Foto: Ilustrasi hotel. (Getty Images/iStockphoto/kitzcorner)
Denpasar -

Konsep green hotel kini menjadi standar baru yang kian diminati para wisatawan. Kepatuhan terhadap prinsip keberlanjutan (sustainability) menjadi praktik yang kian gencar dilaksanakan seiring eratnya hubungan hotel dengan berbagai pihak dari luar negeri.

"Mereka sangat aware dengan green hotel (atau) green destination karena itu yang wisatawan cari. Jadi jika ada hotel yang ada pengurangan air, plastik, itu justru menjadi pilihan," Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Denpasar, Ida Bagus Gede Sidharta Putra, ketika diwawancarai detikBali, Rabu (29/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, Sidharta menjelaskan keharusan menerapkan konsep keberlanjutan tersebut secara otomatis dipengaruhi karena pemberlakuan pengawasan dari regulasi dan perlindungan hukum internasional bagi para wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali khususnya Denpasar.

"Kita kan titiknya di Sanur, sekarang di sana kan arahnya ke sustainability juga, contohnya sudah dibuat larangan parkir, jadinya mulai terjaga," imbuh Sidharta.

ADVERTISEMENT

Namun, BPC PHRI Denpasar belum memiliki data terkait daftar hotel, restoran, dan kafe yang telah secara tertib menerapkan prinsip keberlanjutan. Mereka hanya memberikan pendampingan kepada anggota mereka.

"Nggak ada datanya, kita harus masuk masing-masing karena prinsip kerjanya masing-masing, ada yang sudah 80%, 60% menerapkan, tergantung resources masing-masing," terang Sidharta.

"Kami sudah dicek juga dari kementerian, dinas lingkungan hidup, Satpol PP untuk melihat pelaksanaannya dan PHRI mendampingi anggotanya saat dicek," terang Sidharta.

Foto: Jalan Danau Tamblingan, Sanur, kawasan pertokoan, hotel hingga restoran yang ramai dikunjungi wisatawan. (Maria Christabel DK/detikBali)

Menurut Sidharta, pengolahan sampah hotel menjadi konsen dalam penerapan green hotel. Pengelolaan terbagi sesuai jenis limbah. Limbah cair umumnya dikelola mandiri melalui instalasi pengelolaan air limbah (IPAL), sementara limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), seperti kabel dan baterai, dikelola melalui resmi bersertifikat.

Masalah justru terjadi dalam pengelolaan sampah organik. Menurut Sidharta, banyak daun diambil pihak ketiga dan banyak dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Seusai TPA Suwung ditutup, beberapa perusahaan sudah melakukan proses, misalnya pemotongan cabang lebih kecil dan menaruh dalam bak menjadi kompos.

"Kami sudah membeli mesin pencacah untuk batang-batang yang lama busuknya, lalu ada komposter juga di hotel-hotel sekarang, terutama chain-chain hotel besar atau internasional sudah punya pengelolaan limbah yang bagus," jelas Sidharta.

Hotel juga melakukan kerja sama dengan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Sanur, "Karena mereka punya pemilahan, pengolahannya, dan penyalurannya juga. Sebenarnya tergantung kesiapan mesinnya, makin kesiapan dipercepat dengan teknologinya, saya yakin sampah bisa teratasi," ucap Sidharta.

Sementara itu, beberapa restoran dan kafe di Denpasar memiliki sistem pengelolaan sampah yang berbeda-beda. Salah satu kafe di kawasan Sanur, Section 9, mengaku belum mengetahui sistem pemilahan sampah.

"Kami gabung sama Hotel Ramayana di belakang. Sejauh ini sih nggak ada kendala, diambil terus tiap hari. Kalo soal pemilahan, kita nggak tau, kita cuma sisa makanan aja soalnya," jelas staf Section 9 Damar ketika diwawancarai singkat.

Berbeda dengan Terracotta Restaurant yang telah lakukan pemilahan sampah. Namun, sama seperti Section 9, pembuangan sampah dilakukan secara bersamaan dengan hotel.

"Udah dipilah organik dan anorganik, tetapi sampahnya kami buang ke hotel Laghawa karena kami bagian hotel itu. Kemarin sempat lama diambil karena macet habis hujan beberapa hari lalu," kata staf Terracotta Restaurant, Wayan.

Terakhir, Medin Bali Cafe memiliki metode lebih spesifik dengan pemilahan empat kelompok sampah, yaitu organik, anorganik, residu, dan barang pecah belah. Mereka berlangganan secara mandiri untuk angkutan sampah dengan bayaran per bulan.

"Kita bayar 200-300 per bulannya. Setiap hari diangkut cuma kalo organik khusus senin sama jumat aja, sejauh ini lebih cepat diangkut. Kita setiap hari buangnya malam dan pagi udah diangkut," ucap staf Medin Bali Cafe, Lisa.




(hsa/hsa)










Hide Ads