Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD untuk pertama kalinya digelar tahun ini. SD Negeri 2 Dangin Puri menjadi salah satu sekolah yang melaksanakan TKA pada 20-23 April 2026, diikuti seluruh siswa kelas 6.
Dalam pelaksanaan perdana ini, sejumlah siswa mengeluhkan panjangnya soal yang diberikan. Salah satu siswi, Gita, menyebutkan bahwa soal yang ia kerjakan cukup menantang.
"Lumayan, tapi bisa dibilang susah juga. Rumusnya itu juga susah," kata Gita saat ditemui di SDN 2 Dangin Puri, Selasa (28/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, kesulitan tersebut terletak pada mata pelajaran Matematika, khususnya materi bangun ruang. Angka besar pada soal membuat proses perhitungan lebih rumit.
"Angkanya besar, jadi kadang susah dibagi," ujarnya.
Hal serupa juga dirasakan siswa lainnya. Mereka mengaku waktu pengerjaan terasa sempit karena harus memahami soal terlebih dahulu sebelum menjawab.
Siswa lain juga mengaku waktu pengerjaan terasa sempit karena selain membaca soal yang panjang, mereka kebingungan menentukan soal mana yang harus dijawab terlebih dahulu.
"Waktunya kurang, jadi mikir dulu jawab yang mana," ucap Anaya.
Keluhan soal panjang juga diakui Kepala Sekolah SD Negeri 2 Dangin Puri, I Ketut Gardi Yasa. Ia menilai soal panjang tidak hanya terdapat pada TKA Matematika, tetapi juga pada ujian Bahasa Indonesia.
"Waktu pengerjaan memang terasa kurang, karena soalnya panjang. Terutama di Bahasa Indonesia, literasinya panjang-panjang," jelasnya.
Untuk mempersiapkan TKA, pihak sekolah telah mengantisipasi dengan memberikan pola soal serupa sejak awal. Sekolah menyusun soal dengan tipe HOTS (Higher Order Thinking Skills) pada Sumatif Tengah Semester (STS) dan Sumatif Akhir Semester (SAS) agar siswa terbiasa.
"Sebenarnya dari awal memang diarahkan kita untuk membuat soal STS, soal SAS itu memang harus yang HOTS gitu supaya anak-anak terbiasa juga tidak menjawab soal yang lebih membutuhkan berpikir mendalam," ujar Ade Dian Valentina, wali murid kelas 6.
Latihan soal tidak hanya diberikan di sekolah. Siswa juga mendapat tambahan latihan di luar jam pelajaran, baik melalui Google Form maupun lembar soal.
"Setelah jam pelajaran biasanya langsung kami kasih latihan lagi, supaya mereka terbiasa. Waktu libur juga kami berikan soal melalui Google Form," imbuhnya.
Selain itu, sekolah juga membentuk tim khusus sejak awal tahun untuk mempersiapkan pelaksanaan TKA. Tim tersebut dibagi dalam dua fokus, yakni literasi dan numerasi.
"Yang dilihat dari 2025, sudah ada sosialisasi. Setelah itu, melihat sosialisasinya itu, kitalah membuat tim jadinya berkaca dari kegiatan TKA pertama itu yang dilakukan oleh anak-anak SMA dan hasilnya kurang. kesiapan sekolah, sebenarnya dari awal Januari kita sudah mempersiapkan," tambah Yasa.
"Kami bentuk tim khusus, ada yang fokus di numerasi dan ada yang di literasi. Guru kelas 6 jadi tim inti, dibantu guru lain yang sesuai dibidangnya," ucapnya.
Di balik persiapan tersebut, sekolah juga menghadapi sejumlah kendala teknis. Pada awal pelaksanaan, jaringan internet sempat bermasalah.
Selain itu, keterbatasan perangkat turut menjadi kendala. Untuk memenuhi kebutuhan perangkat, sekolah menyiasatinya dengan menyewa tambahan perangkat.
"Laptop kami masih kurang, akhirnya kami sewa sekitar belasan unit dari dana BOS. Total yang dipakai sekitar 20-an unit, termasuk cadangan dari laptop pribadi para guru," ucap Yasa.
Meski baru pertama kali dilaksanakan di jenjang SD, Yasa mengaku lebih condong pada skema Tes Kemampuan Akademik (TKA) dibandingkan Ujian Nasional (UN). Menurutnya, perbedaan paling terasa ada pada tekanan yang dirasakan siswa.
"Kalau dulu UN itu menentukan lulus atau tidak. Dampaknya besar ke psikologis siswa. Anak-anak sudah belajar enam tahun, tapi bisa 'runtuh' kalau tidak lulus," jelas Yasa.
Ia menilai skema TKA tidak terlalu menekan karena tidak menjadi penentu kelulusan, melainkan sebagai bahan evaluasi kemampuan siswa dan sekolah.
"Saya lebih mendukung TKA. Karena tidak menentukan lulus tidak lulus. Anak-anak tetap serius mengerjakan, tapi tidak sampai takut," paparnya.
"Semoga nilai TKA ini jadi bahan evaluasi. Bukan serta-merta untuk memberi label sekolah berhasil atau tidak," tegasnya.
Meski pelaksanaan perdana dinilai cukup memuaskan, Yasa menyebut masih ada hal yang perlu dibenahi, terutama terkait materi ujian yang belum sepenuhnya selaras dengan pembelajaran di kelas.
"Kadang ada soal yang anak-anak bilang belum pernah dipelajari. Ini yang ke depan perlu diperjelas lagi," katanya.
Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya menyiapkan soal, tetapi juga memberikan pendampingan lanjutan bagi guru.
"Harapannya, ini jadi bahan evaluasi bagi pusat untuk lebih mendampingi guru, terutama soal materi pembelajaran. Harus tetap dibuka jalur prestasi non-akademik. Karena tidak semua anak unggul di akademik," jelasnya.
Ia mencontohkan, tidak semua siswa unggul di akademik, tetapi memiliki kelebihan di bidang lain seperti seni. Karena itu, penilaian diharapkan tidak hanya bertumpu pada nilai rapor yang masih dipengaruhi berbagai faktor.
"Nilai TKA ini murni. Anak mengerjakan sendiri di dalam ruang ujian, kita tidak bisa intervensi," jelasnya.
Namun, ia menekankan TKA tidak sebaiknya menjadi satu-satunya acuan dalam menilai kemampuan siswa.
"Kalau hanya mengandalkan satu sisi saja, itu tidak cukup. Harus tetap ada ruang untuk melihat potensi anak secara menyeluruh," tutupnya.
(dpw/dpw)










































