Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Buleleng kembali menemukan satu ekor sapi positif terjangkit Lumpy Skin Disease (LSD). Temuan terbaru ini berada di wilayah Desa Pejarakan, Kecamatan Gerokgak.
Dengan adanya kasus baru tersebut, total sapi yang terkonfirmasi positif LSD di Kecamatan Gerokgak kini berjumlah tiga ekor dan tersebar di dua desa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Distan Buleleng, Gede Melandrat, mengatakan sapi positif LSD sebelumnya ditemukan di Desa Sumberkelampok. Pihaknya kemudian melakukan penelusuran (tracing) terhadap sapi-sapi di sekitar lokasi.
"Dua sapi positif sebelumnya di Desa Sumberkelampok. Kami lakukan tracing terhadap 25 ekor sapi di sekitarnya. Setelah diambil sampel darah, ternyata ada satu lagi yang hasilnya positif," kata Melandrat, Jumat (23/1/2026).
Satu sapi tambahan yang terkonfirmasi positif tersebut diketahui berada di Desa Pejarakan. Menindaklanjuti temuan ini, Distan Buleleng berencana melakukan lockdown terbatas di dua desa tersebut.
"Rencananya kami akan berkoordinasi dengan perbekel Desa Sumberkelampok dan Pejarakan serta Camat Gerokgak untuk melakukan lockdown. Tujuannya agar tidak ada sapi yang keluar masuk dari dua desa itu," jelasnya.
Selain pembatasan lalu lintas ternak, Distan Buleleng juga telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi terkait permintaan vaksin LSD. Namun, hingga kini vaksin tersebut masih dalam tahap koordinasi.
"Kalau vaksin sudah diberikan, kami siap. Di Buleleng ada 27 dokter hewan yang siap melakukan vaksinasi," imbuh Melandrat.
Diketahui, kasus LSD di Buleleng bermula dari pembelian dua anakan sapi secara online melalui media sosial Facebook oleh seorang peternak. Sapi tersebut didatangkan dari luar daerah dan diduga berasal dari wilayah timur Bali.
Setelah dipelihara sekitar satu bulan, sapi menunjukkan gejala bercak-bercak pada kulit menyerupai cacar. Meski kondisi sapi dilaporkan mulai membaik dan masih memiliki nafsu makan, Distan Buleleng tetap mengambil langkah pencegahan guna mencegah penyebaran lebih luas.
Wabah LSD di Jembrana Meluas ke 4 Kecamatan
Wabah LSD semakin meluas di Kabupaten Jembrana. Sempat terbatas di dua wilayah, kini virus tersebut telah merambah ke Kecamatan Mendoyo dan Kecamatan Jembrana dengan total ditemukan 43 kasus di Bumi Makepung.
Kabid Keswan-Kesmavet Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta, mengonfirmasi bahwa saat ini hampir seluruh kecamatan di Jembrana telah terpapar. Kini, hanya tersisa satu kecamatan yang masih dinyatakan zona hijau.
"Sesuai data yang kami dapatkan hingga saat ini ada 43 kasus LSD di Jembrana. Rinciannya di Kecamatan Negara 21 kasus, Kecamatan Melaya 7 kasus, Kecamatan Jembrana 5 kasus, dan Kecamatan Mendoyo 1 kasus. Sehingga di Jembrana hanya Kecamatan Pekutatan yang masih bersih LSD," ungkap Sugiarta saat dikonfirmasi detikBali, Jumat (23/1/2026).
Sugiarta menjelaskan pihaknya memutuskan untuk menghentikan skema potong bersyarat. Kebijakan ini dinilai sudah tidak efektif lagi mengingat persebaran virus yang sangat masif, bahkan sudah melintasi batas kabupaten tetangga.
"Potong bersyarat kurang efektif, jadi sementara kami stop dulu. Fokus kami saat ini beralih sepenuhnya ke kegiatan vaksinasi dan penyemprotan disinfektan secara intensif," jelasnya.
Meski langkah vaksinasi terus digenjot, Sugiarta mengakui adanya kendala besar pada ketersediaan stok. Saat ini, jumlah vaksin yang dimiliki sangat jauh dari total populasi sapi di Jembrana yang mencapai 41.587 ekor. Berdasarkan data dinas, Jembrana baru memiliki 400 dosis vaksin. Jumlah tersebut baru mencakup sekitar 1 persen dari total populasi yang ada.
Baca juga: Bali Siaga LSD, Lalu Lintas Sapi Diperketat |
"Jumlah vaksin sangat terbatas. Kami prioritaskan dulu di zona tertular dengan target minimal mencakup 50 persen populasi di desa tersebut," kata Sugiarta.
Pemerintah daerah kini tengah menunggu bantuan tambahan dari pemerintah pusat. Informasinya, pusat telah menyediakan 6.000 vaksin LSD untuk Provinsi Bali.
"Kami masih menunggu akan dialokasikan ke Jembrana berapa vial dari total 6.000 vaksin di Provinsi Bali. Tim medis di lapangan saat ini bekerja ekstra untuk memastikan penyebaran virus tidak meluas ke wilayah hijau," pungkas Sugiarta.
(nor/nor)










































