Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali mengantisipasi penyebaran virus Lumpy Skin Disease (LSD) di tiga kabupaten, yakni Buleleng, Bangli, dan Karangasem. Lalu lintas perdagangan sapi diperketat.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan) Bali, Nurul Hadiristiyanti, mengatakan ketiga daerah tersebut merupakan wilayah dengan populasi ternak sapi yang tinggi di Bali, selain Jembrana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masing-masing kabupaten tersebut sudah melakukan monitoring pada peternak sapi dan pasar hewan," kata Nurul kepada detikBali, Senin (19/1/2026).
Ia menuturkan penyemprotan disinfektan juga dilakukan sebagai langkah pencegahan. Hingga kini, belum ada laporan kasus LSD di luar Kabupaten Jembrana.
"Seluruh kabupaten/kota se-Bali diharapkan waspada, terutama daerah-daerah populasi sapi yang banyak, dan juga untuk pasar-pasar hewan perlu diterapkan biosekuriti yang ketat," jelasnya.
Nurul menambahkan, sapi dari luar Jembrana masih diperbolehkan diperjualbelikan atau melintas keluar Bali dengan syarat telah menjalani uji laboratorium LSD.
"Di luar daerah tertular masih bisa keluar tapi harus uji lab LSD 100 persen. Untuk sapi Jembrana ke kabupaten lain tidak diperbolehkan," ungkapnya.
Saat ini, Pemprov Bali memiliki stok vaksin LSD sebanyak 400 vial.
Sebelumnya, puluhan sapi di Jembrana terserang virus LSD. Temuan tersebut menjadi kasus pertama LSD di Bali. Lima sapi bahkan dieliminasi bersyarat di Rumah Potong Hewan (RPH) Jembrana.
Per 14 Januari 2026, tercatat 28 sapi terjangkit LSD dengan empat ekor mati. Kasus tersebar di Kecamatan Negara dan Melaya, meliputi lima desa dan satu kelurahan. Pemkab Jembrana pun menerapkan pembatasan lalu lintas ternak sapi di wilayah terdampak.
Pasar Beringkit Tetap Beroperasi
Suasana pasar sapi di Pasar Beringkit, Badung, Bali, masih normal, Senin (19/1/2026). Foto: Agus Eka/detikBali |
Di tengah ancaman wabah LSD, aktivitas perdagangan di Pasar Hewan Beringkit, Kecamatan Mengwi, Badung, terpantau masih berjalan normal.
"Kami hanya mempersempit lalu lintas sapi dari wilayah Jembrana, khususnya dari beberapa desa yang terjangkit untuk sementara ditahan masuk ke Pasar Beringkit," ujar Plt Kepala Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana Badung, Ida Bagus Gede Bhuana Putra Manuaba, Senin (19/1/2026).
Manajemen pasar berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan Pangan Badung untuk melakukan sterilisasi lingkungan dan pemeriksaan ketat terhadap sapi yang masuk.
"Mereka sudah melakukan dua langkah cepat melalui penyemprotan obat ke kandang serta lingkungan pasar," kata Manuaba.
Ia memastikan pembatasan tersebut belum berdampak pada aktivitas perdagangan maupun pendapatan pasar.
"Potensi pendapatan di Pasar Beringkit terkait masalah LSD ini tidak berpengaruh karena sejauh ini belum ada penurunan penjualan," pungkasnya.
(dpw/dpw)











































