Proyek LNG di Bali Diduga Babat Mangrove-Keruk Jutaan Kubik Pasir Laut

I Wayan Sui Suadnyana - detikBali
Sabtu, 28 Mei 2022 17:54 WIB
Pengapalan LNG Arun
Foto: Ilustrasi pengapalan LNG (Istimewa)
Denpasar -

Rencana proyek pembangunan terminal gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) di pesisir Desa Sidakarya, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar mendapatkan penolakan. Salah satunya dari warga Desa Adat Intaran.

Lokasi Desa Adat Intaran bersebelahan dengan rencana proyek terminal LNG tersebut. Salah satu alasan mereka menolak, lantaran diduga adanya pembabatan hutan bakau (mangrove) seluas 14,5 hektare.

"Nike (luasan mangrove) rencananya yang akan diinikan (digunakan) luasnya 14,5 hektar, luas keseluruhan mangrove yang akan dipakai tempat (terminal LNG) nike," kata Bendesa Adat Intaran I Gusti Agung Alit Kencana saat dihubungi detikBali, Sabtu (28/5/2022).


"Kemarin sosialisasi tyang dengar sih baru di babat 2 sampai 3 (hektare). Apakah betul segitu, kan kita juga endak tahu," tambah Alit Kencana.

Alit Kencana menilai, pembabatan hutan mangrove untuk pembangunan terminal LNG ini bertentangan dengan kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Padahal, Presiden Jokowi mencanangkan penanaman atau rehabilitasi mangrove seluas 600 ribu hektare di seluruh Indonesia.

Kemudian, dalam persiapan Presidensi G20, Jokowi juga mempromosikan mangrove sebagai salah satu upaya meredam isu perubahan iklim. Bahkan baru-baru ini pada 24 Mei lalu, pihak 7th Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) juga melakukan penanaman mangrove dekat lokasi tersebut.

Karena itu, upaya yang dilakukan oleh Presiden Jokowi yang melakukan rehabilitasi menjadi kontraproduktif dengan pembangunan terminal LNG yang justru membabat mangrove.

"Nike kan kontraproduktif jadinya," tegas Alit Kencana.

Padahal, kata dia, mangrove juga untuk bisa menyerap karbon. Selain itu ia juga berfungsi sebagai tempat ikan bertelur.

"Kalau nike enggak ada di mana ikan-ikan lagi mau bertelur, sing be ade be (tidak lagi ada ikan jadinya). Niki nelayan kita bagaimana sekarang kehidupannya (kalau tidak ada ikan)," kata dia.

Selain membabat hutan mangrove, proyek terminal LNG di Desa Sidakarya rencananya bakal melakukan pengerukan pasir laut kurang lebih sebanyak 3.300.000 meter kubik. Pengerukan ini ditakutkan akan menyebabkan abrasi terhadap pantai di kawasan Sanur.

"Ada juga pengerukan nanti yang akan ada, nike untuk memasukkan kapal yang 300 meter, kan harus dikeruk karena tempatnya nike dangkal. Harus dikeruk (lautnya), nike kira-kira 3.300.000 meter kubik pasir yang akan disedot, apakah itu tidak abrasi enggak," ujar Alit Kencana.

Sementara itu, dikutip dari situs PT Dewata Energi Bersih (DEB) proyek terminal LNG terdiri dari pembangunan dermaga dengan kapasitas 77.000 deadweight tonnage (DWT) atau tonase bobot mati.

Kemudian ada pengerukan dengan volume minimal 1.200.000 meter kubik, perpipaan gas sekitar 4 kilometer dan stasiun meteran gas.



Simak Video "Warga Intaran Tolak Pembangunan Terminal LNG di Hutan Mangrove "
[Gambas:Video 20detik]
(kws/kws)