Ayah Balita Korban Rabies: Mereka Ribut Prosedur, Anak Saya Mati!

I Ketut Suardika - detikBali
Rabu, 18 Mei 2022 04:45 WIB
Komang Darma Susada (baju merah) ayah balita korban gigitan anjing rabies mengutarakan kekecewaannya saat ditemui di rumah duka
Komang Darma Susada (baju merah) ayah balita korban gigitan anjing rabies mengutarakan kekecewaannya saat ditemui di rumah duka. (Foto: I Ketut Suardika)
Jembrana -

Meninggalnya NKC, balita asal asal Banjar Pebuahan, Desa Banyubiru, Kecamatan Negara,yang diduga positif rabies tak hanya meninggalkan duka bagi keluarga.

Namun, kepergian balita berusia 2 tahun 6 bulan itu juga menyisakan tanda tanya dan perasaan kecewa bagi keluarga mendiang.

Kekecewaan keluarga itu menyusul dengan pelayanan petugas medis di Puskesmas 1 Negara yang dinilai lamban dan tidak maksimal.


Seperti diungkap Komang Darma Susada, pria yang tak lain ayah dari mendiang NKC ini mengaku sangat kecewa dengan pelayanan petugas Puskesmas 1 Negara.

Darma Susada kecewa dengan keputusan puskesmas yang ketika itu tidak segera memberikan vaksin anti rabies bagi anaknya (Korban NKC).

"Karena anjingnya hilang, menurut saya sama dengan mati. Kami sudah melapor, tapi tidak mendapat tanggapan dari puskesmas. Sebaliknya, puskesmas mengira anak saya sudah sembuh,"ungkap Darma Susada.

Singkat cerita, perkiraan atau dugaan petugas puskesmas ternyata salah. Pasalnya sebulan sejak digigit anjing tetangga, anaknya Jumat (13/5/2022) mendadak sakit.

NKC mendadak mengalami panas tinggi dan dibawa lagi ke puskesmas 1 Negara.

Nah, saat kondisi anaknya sudah panas tinggi, barulah dokter puskesmas memberikan vaksin anti rabies di lengan kanan dan kiri putrinya.

"Kata dokternya waktu ini, kalau memang terjangkit anak anda positif baru disuntik VAR. Karena bilang begitu, makanya saya bilang apa nunggu mati anak saya biar dapat VAR, ternyata beneran (meninggal). Mereka ribut prosedur, anak saya mati," tandas Susada dengan nada kesal.

Bahkan, imbuh Susada, untuk bisa mendapatkan suntikan VAR saat itu, anaknya harus menunggu hingga lima jam lamanya.

"Dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore, dokter dan perawat belum ada kesepakatan. Mereka masih berembuk, tidak langsung dikasih VAR. Saya lihat ada yang bilang tidak usah dikasih VAR nanti bermasalah, tapi ada petugas satunya bilang dikasih saja sudah ada izin,"imbuh Susada.

Melihat kondisi itu, meski mengaku telah mengihklaskan kepergian anaknya, namun Komang Darma Susada mengaku sangat kecewa dengan pelayanan Puskesmas 1 Negara.



Simak Video "Balita Suspek Rabies di Jembrana Meninggal, Puluhan Anjing Divaksinasi"
[Gambas:Video 20detik]
(dpra/dpra)