Berawal dari sekadar mengisi waktu luang, kanal YouTube Resya Mesya kini menjelma menjadi salah satu kanal kreator digital asal Bali dengan jutaan pengikut. Di balik kesuksesan itu, kakak beradik asal Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, ini tak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkenalkan budaya Bali hingga mengantarkan salah satu talent utamanya menembus dunia perfilman.
Di balik layar, ada sosok sang ayah, I Dewa Gede Maresta Putera, yang menjadi motor penggerak sekaligus pengelola kanal tersebut. Nama Resya Mesya sendiri merupakan gabungan nama kedua anaknya, I Dewa Gede Resya Putra Mahottama (15) dan Desak Made Mesya Adelia Putri (12).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perjalanan membuat konten dimulai pada 2019. Saat itu, konten yang diproduksi masih bertema olahraga dan motor cross dengan Resya sebagai satu-satunya talent. Ketika itu Resya masih berusia sekitar enam tahun dan duduk di bangku taman kanak-kanak (TK)," ujar Maresta saat ditemui di kediamannya.
Seiring waktu, konsep konten pun berubah. Kehadiran Mesya yang saat itu masih kelas 3 SD membawa warna baru. Karena memiliki hobi menari dan aktif berlatih di Sanggar Tari Bali Gopal, konten Resya Mesya kemudian lebih banyak mengangkat budaya dan tari Bali.
Dalam masa transisi tersebut, keluarga berusaha membangun alur cerita agar perubahan tema tetap dapat diterima penonton. Setelah konten budaya berkembang, mereka kembali berinovasi dengan menghadirkan konten drama yang mengangkat persoalan sosial dan pergaulan anak-anak.
Mesya Debut Film dan Berprestasi Bidang Tari
Perubahan itu justru membuka jalan baru bagi Mesya. Namanya mulai dikenal di dunia perfilman Bali hingga dipercaya menjadi talent dalam sejumlah film.
Debutnya dimulai melalui film Bhineka Tunggal Ika pada 2023, disusul Subak Spirit dan Cening Nepukin Kawa pada 2024. Saat ini Mesya juga tengah terlibat dalam proses produksi film Meong, Bikul, dan Kisah Si Pemburu yang dijadwalkan rilis pada 2026.
"Selain film, Mesya juga tampil dalam sejumlah video klip," ujarnya.
Jika pada awal perjalanan Resya menjadi wajah utama kanal tersebut, kini peran itu lebih banyak diisi sang adik. Sementara Resya lebih fokus di balik layar sebagai penulis cerita, pengarah produksi, hingga mengurus kebutuhan logistik.
Selain dikenal sebagai konten kreator, Mesya juga kerap meraih prestasi dalam berbagai festival tari tingkat provinsi, termasuk ajang Piala Gubernur dan sejumlah kompetisi tari lainnya di Bali.
Sang Ayah Rela Resign dari Perbankan
Keseriusan keluarga mengembangkan kanal ini bahkan membuat Maresta mengambil keputusan besar. Setelah bertahun-tahun bekerja di sektor perbankan, ia memilih mengundurkan diri pada 2025 agar dapat fokus mendampingi kedua anaknya berkarya.
Menurutnya, menjadi konten kreator membawa banyak pengalaman positif bagi kedua anaknya. Resya dan Mesya kini lebih dikenal di lingkungan rumah, sekolah, hingga dunia perfilman.
"Mereka juga sering dipercaya mewakili sekolah dalam berbagai kompetisi maupun menjadi talent promosi kegiatan sekolah," tegasnya.
Tantangan Terbesar
Meski demikian, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Tantangan terbesar justru datang dari proses kreatif. Ide cerita harus terus diperbarui, sementara usia Resya dan Mesya yang kini beranjak remaja membuat karakter anak-anak yang dulu melekat perlahan harus ditinggalkan. Tak jarang pula proyek yang telah dipersiapkan dengan matang tidak memberikan hasil sesuai harapan.
Popularitas Resya Mesya juga membawa dampak sosial di lingkungan sekolah. Mesya mengaku semakin dikenal teman-temannya di SD Saraswati Tabanan. Ia bahkan menjadi inspirasi bagi teman-temannya untuk belajar tari karena sering membagikan proses latihan hingga penampilannya.
"Teman-teman jadi ikutan bikin konten. Selain itu sekarang lebih percaya diri di depan umum," papar Mesya.
Sementara itu, Resya yang kini bersekolah di SMP Negeri 2 Kerambitan juga merasakan hal serupa. Banyak temannya mulai tertarik menekuni dunia konten kreator.
Di tengah kesibukan tersebut, keluarga tetap menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Jadwal sekolah dan produksi konten diatur sedemikian rupa agar keduanya tetap dapat belajar tanpa mengabaikan aktivitas kreatif.
Penghasilan Pertama Rp 1,9 Juta
Dari sisi ekonomi, perjalanan mereka pun menunjukkan perkembangan signifikan. Penghasilan pertama dari YouTube hanya sekitar Rp 1,9 juta. Kini, pendapatan dari berbagai platform media sosial telah mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan. Hasil itu digunakan untuk meningkatkan kualitas peralatan produksi, membiayai pendidikan, menabung, hingga memenuhi kebutuhan operasional.
Saat ini, kanal YouTube Resya Mesya memiliki sekitar 3,1 juta subscriber. Mereka juga mengumpulkan lebih dari 50 ribu pengikut di Instagram dan sekitar 30 ribu pengikut di TikTok.
Sepanjang perjalanan, Resya Mesya telah berkolaborasi dengan sejumlah kreator konten, seperti Echa Laksmi dan Sibliwira, serta mengikuti berbagai festival yang digelar kementerian.
Memperingati Hari Anak Nasional, kakak beradik itu berharap karya mereka dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak lain untuk terus berkarya tanpa melupakan jati diri.
"Sebagai konten kreator, kami ingin menyebarkan nilai-nilai positif, memperkenalkan budaya Bali, serta menghasilkan karya yang bisa menghibur sekaligus mendidik," ujar keduanya.
(nor/nor)