Kasiati, siswi SMAS Kae, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, tak menyangka diterima di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Kasiati dinyatakan lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) pada 2026.
Kasiati yang akrab disapa Ati merupakan siswi jurusan IPA SMAS Kae, Woha. Siswi berusia 15 tahun 5 bulan itu dinyatakan lulus SNBP jenjang S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa. Walhasil, dia merupakan calon mahasiswi termuda di Unesa.
"Berkat doa dan dukungan orang tua dan guru-guru SMAS Kae, Alhamdulillah saya lulus SNBP 2026 di Unesa," ucap Ati kepada detikBali, Rabu (15/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ati adalah anak bungsu empat bersaudara dari pasangan suami istri (pasutri) Muhammad dan Wahidah, warga Desa Ncera, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima. Bapak dan ibunya merupakan petani bawang merah.
"Saya anak terakhir dari keluarga petani bawang merah di Desa Ncera," kata remaja kelahiran 2010 itu.
Cita-cita Jadi Guru SLB
Ati mengaku mendaftar di Unesa melalui jalur SNBP 2026 atas saran dan dorongan seorang guru bernama Baharuddin. Guru Bahasa Inggris di SMAS Kae yang juga pamannya tersebut mengetahui Ati berminat dan ingin menjadi guru Sekolah Luar Biasa (SLB).
"Atas saran dan dorongan paman sekaligus guru di sekolah saya mendaftar SNBP di Unesa dengan mengambil jurusan PLB. Beliau tahu minat dan cita-cita saya ingin menjadi guru SLB," ujarnya.
Di samping cita-citanya menjadi guru SLB, Ati mengaku dirinya mengambil jurusan PLB di Unesa karena melihat peluang ke depan. Mengingat jurusan atau program studi yang diambilnya tersebut sepi peminat.
"Melihat peluang ke depannya, karena di siswa-siswi Bima lebih khusus di desa saya, tak berminat mengambil jurusan dan program studi ini," bebernya.
Saat ini Ati masih berada di rumahnya di Ncera dan tengah mempersiapkan untuk daftar ulang. Untuk mengisi waktu luang, Ati menyibukkan diri membantu pekerjaan ibunya di rumah. Seperti memasak, membersihkan rumah, hingga mencuci.
"Masih di rumah. Menunggu pembukaan pendaftaran ulang," katanya.
Sering Bantu Ayah di Sawah
Menurut Ati, membantu pekerjaan orang tua di rumah bukan kali ini saja dilakukan, tapi dari dulu. Bahkan saat libur sekolah, Ati sering membantu bapaknya yang bertani bawang merah di sawah.
"Kadang bekerja di sawah, kadang membantu pekerjaan di rumah," katanya.
Meski begitu, Ia tidak lupa dengan aktivitasnya sebagai seorang pelajar. Di sela waktu luang, Ati mengaku tetap belajar dan membaca. Karena baginya belajar dan membaca sesuatu yang sulit dipisahkan.
"Tetap belajar dan hobi saya membaca dari dulu," terangnya.
Ati juga punya prestasi membanggakan. Yakni, juara I Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Kabupaten/Kota hingga Provinsi NTB mewakili sekolahnya SMAS Kae pada 2025 lalu.
"Saya dari SMAS Kae Woha, mewakili NTB mengikuti LCC tingkat nasional," katanya.
Terlepas dari itu, Ati menaruh harapan kepada generasi penerus untuk terus belajar dan tak patah semangat mengejar cita-cita meski dari keluarga tak mampu. Karena dengan belajar hal yang sulit akan dicapai dengan mudah.
"Tidak ada motivasi. Hanya belajar, belajar dan belajar," tandasnya.
Tak Pernah TK
Banyak yang heran Kasiati bisa lulus SMA dan berprestasi di usia belia. Kasiati mengaku masuk sekolah dasar (SD) pada usia 4,5 tahun. Dia tidak menempuh taman kanak-kanak dahulu. Saat kecil, ia belajar huruf dan angka sembari orang tuanya bekerja di sawah.
Bermodalkan hanya bimbingan orang tua, Kasiati sudah mulai pandai dan bisa mengikuti pelajaran seperti teman-temannya yang berusia lebih tua. Dari awal sekolah, Kasiati juga tidak pernah mengikuti program akselerasi.
(hsa/hsa)










































