Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia terus bertambah. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi ULN RI per akhir Maret 2026 mencapai US$ 433,4 miliar atau setara Rp 7.669 triliun (kurs Rp 17.695).
Nilai tersebut naik dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar US$ 431,7 miliar. Meski begitu, BI menyebut laju pertumbuhan utang luar negeri mulai melambat.
"Posisi ULN Indonesia pada triwulan I-2026 tercatat sebesar US$ 433,4 miliar atau secara tahunan tumbuh 0,8%, melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan IV-2025 sebesar 1,9%," kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis, Selasa (19/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara rasio, ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) turun menjadi 29,5% pada triwulan I-2026 dari sebelumnya 30% pada triwulan IV-2025. ULN Indonesia masih didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 85,4% dari total ULN.
ULN Pemerintah Naik
BI mencatat ULN pemerintah pada triwulan I-2026 sebesar US$ 214,7 miliar atau tumbuh 3,8% secara tahunan (year on year/yoy). Namun, pertumbuhan itu lebih rendah dibandingkan triwulan IV-2025 yang sebesar 5,5% (yoy).
Menurut BI, perkembangan tersebut dipengaruhi aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional di tengah masih terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.
"Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), ULN pemerintah dikelola secara cermat, terukur dan akuntabel dengan pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung belanja prioritas pemerintah dan memanfaatkan momentum pertumbuhan perekonomian," jelas Denny.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,1% dari total ULN pemerintah. Kemudian administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,2%, jasa pendidikan 16,2%, konstruksi 11,5%, serta transportasi dan pergudangan 8,5%.
Posisi ULN pemerintah hampir seluruhnya berupa utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99% dari total ULN pemerintah.
ULN Swasta Turun
Sementara itu, ULN swasta pada triwulan I-2026 turun menjadi US$ 191,4 miliar dibandingkan posisi triwulan IV-2025 yang sebesar US$ 194,2 miliar.
Penurunan terjadi pada kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations). Secara tahunan, keduanya masing-masing mengalami kontraksi sebesar 3,6% (yoy) dan 1,3% (yoy).
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Pangsa keempat sektor tersebut mencapai 80,4% dari total ULN swasta.
ULN swasta juga masih didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,6% terhadap total ULN swasta.
BI memastikan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga struktur ULN tetap sehat.
Peran ULN juga akan terus dioptimalkan guna menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
"Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," tutur Denny.
(dpw/dpw)










































