Benarkah Makanan Fermentasi Baik untuk Usus? Ini Fakta Sebenarnya

Benarkah Makanan Fermentasi Baik untuk Usus? Ini Fakta Sebenarnya

Hafizna Irasa Hasibuan - detikSumut
Kamis, 22 Okt 2026 14:00 WIB
Makanan fermentasi
Foto: iStock
Medan -

Istilah gut health atau kesehatan usus semakin sering dibicarakan seiring meningkatnya perhatian terhadap pola makan dan kesehatan pencernaan. Salah satu cara yang kerap dikaitkan dengan kesehatan usus adalah mengonsumsi makanan fermentasi, seperti tempe, yoghurt, tapai, dan kombucha.

Makanan fermentasi dibuat dengan bantuan mikroorganisme, seperti bakteri, khamir, atau kapang. Selama proses itu, mikroorganisme mengubah komponen bahan pangan dan menghasilkan senyawa yang dapat memengaruhi rasa, tekstur, serta karakteristik gizinya.

Lalu benarkah makanan fermentasi bisa membantu menjaga kesehatan usus? Sejumlah penelitian mulai memberikan gambaran mengenai manfaatnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penelitian Ungkap Manfaat Makanan Fermentasi

Tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Nutrition pada Oktober 2025 menganalisis 25 penelitian dengan total 4.328 peserta. Sebanyak 19 uji acak terkontrol turut dianalisis untuk menilai pengaruh konsumsi makanan fermentasi terhadap kesehatan pencernaan orang dewasa yang sehat.

Hasil analisis menunjukkan konsumsi makanan fermentasi berkaitan dengan peningkatan frekuensi buang air besar, perubahan konsistensi feses, serta perbaikan sejumlah gejala pencernaan. Penelitian itu juga menemukan adanya pengaruh terhadap waktu transit usus, yakni waktu yang dibutuhkan makanan atau sisa pencernaan untuk melewati saluran cerna.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, tingkat kepastian bukti untuk berbagai hasil tersebut tidak sama dan sebagian besar masih tergolong rendah. Artinya, makanan fermentasi berpotensi mendukung kesehatan pencernaan, tetapi manfaatnya tidak bisa dipastikan sama pada setiap orang.

Salah satu komponen yang menjadi perhatian dalam makanan fermentasi adalah mikroorganisme hidup. Sebagian di antaranya dapat memiliki sifat probiotik, yaitu mikroorganisme hidup yang memberikan manfaat kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah memadai dan memiliki bukti ilmiah yang mendukung manfaat tersebut.

Dalam tinjauan yang diterbitkan di Klinik: Jurnal Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan 2026, Supartiningsih dan tim menjelaskan beberapa mekanisme kerja mikroorganisme probiotik. Di antaranya adalah bersaing dengan mikroba yang merugikan, menghasilkan senyawa antimikroba, dan berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh di saluran pencernaan.

Proses fermentasi juga menghasilkan metabolit yang dapat memengaruhi karakteristik dan potensi manfaat pangan. Namun, efeknya bergantung pada jenis mikroorganisme, bahan yang difermentasi, dan proses pembuatannya.

Karena itu, makanan fermentasi tidak otomatis dapat disebut sebagai sumber probiotik dengan manfaat klinis yang telah terbukti. Kandungan mikroorganisme dan manfaatnya bisa berbeda antara satu produk dan produk lainnya.

Tempe, Yoghurt, hingga Kombucha

Masyarakat Indonesia memiliki beragam pilihan makanan dan minuman fermentasi yang mudah ditemukan. Tempe, misalnya, dibuat melalui fermentasi kedelai menggunakan kapang. Sementara itu, yoghurt dihasilkan melalui fermentasi susu menggunakan kultur bakteri tertentu.

Ada pula tapai yang dibuat melalui fermentasi singkong atau beras ketan, serta kombucha yang dihasilkan dari fermentasi teh menggunakan kultur bakteri dan khamir.

Dalam tinjauan tahun 2026, sejumlah produk fermentasi lokal, termasuk tapai dan tempe, dibahas sebagai bagian dari potensi pangan fermentasi. Namun, manfaat kesehatan suatu produk tidak dapat disamaratakan hanya berdasarkan proses fermentasinya.

Produk yang dipanaskan setelah fermentasi, misalnya, mungkin tidak lagi mengandung mikroorganisme hidup dalam jumlah yang sama. Begitu pula dengan produk yang menggunakan kultur atau proses pembuatan berbeda.

Oleh sebab itu, penting untuk melihat jenis produk, bahan, proses pengolahan, dan bukti penelitian yang tersedia sebelum menyimpulkan manfaatnya bagi kesehatan usus.

Gut Health Bukan Hanya Soal Makanan Fermentasi

Penelitian menunjukkan makanan fermentasi berpotensi membantu sejumlah aspek kesehatan pencernaan. Namun, bukti yang ada masih beragam dan belum cukup untuk menyatakan semua makanan fermentasi pasti memperbaiki kesehatan usus.

Menjaga gut health bukan sekadar mengikuti tren konsumsi probiotik. Pola makan seimbang, asupan serat yang cukup, hidrasi, dan kebiasaan hidup sehat tetap menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi pencernaan.

Dengan memahami perbedaan antara makanan fermentasi dan probiotik, masyarakat dapat memilih pangan secara lebih bijak tanpa terjebak klaim kesehatan yang berlebihan.

Artikel ditulis Hafizna Irasa Hasibuan, Peserta Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Menakar Peluang Tempe Jadi 'Superfood' Masa Depan"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads