Mengenal Istilah Social Jetlag, Perbedaan Waktu Tidur saat Hari Kerja dan Libur

Mengenal Istilah Social Jetlag, Perbedaan Waktu Tidur saat Hari Kerja dan Libur

Muhammad Fikri Haikal Saragih - detikSumut
Sabtu, 10 Okt 2026 10:30 WIB
Ilustrasi Perempuan Tidur
Foto: Getty Images/iStockphoto/Nuttawan Jayawan
Medan -

Seseorang yang terbiasa mengantuk larut malam mungkin harus bangun pukul 06.00 untuk bekerja atau kuliah. Namun, saat hari libur tiba, ia bisa tidur dan bangun lebih siang karena tidak terikat jadwal yang sama.

Perbedaan waktu tidur antara hari kerja dan hari libur itu bisa menjadi salah satu gambaran social jetlag. Istilah ini merujuk pada ketidaksesuaian antara jam biologis tubuh dan jadwal sosial, seperti waktu masuk kerja atau kuliah.

Pengertian Social Jetlag

Istilah social jetlag diperkenalkan dalam penelitian Marc Wittmann, Jenny Dinich, Martha Merrow, dan Till Roenneberg yang diterbitkan dalam jurnal Chronobiology International pada 2006.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Fenomena ini berbeda dari travel jet lag yang dialami seseorang setelah bepergian melintasi beberapa zona waktu. Pada perjalanan jauh, tubuh perlu menyesuaikan diri dengan waktu setempat yang berbeda dari tempat asal.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, social jetlag bisa terjadi tanpa perjalanan ke mana pun. Kondisi ini muncul ketika waktu tidur yang sesuai dengan jam biologis seseorang tidak sejalan dengan jadwal kerja, sekolah, atau kegiatan lainnya.

Perbedaan keduanya juga diteliti Tavares dalam penelitian pada 2020. Meski sama-sama berkaitan dengan ketidaksesuaian waktu, keduanya merupakan fenomena yang berbeda.

Lantas, mengapa seseorang bisa lebih mudah tidur larut dan sulit bangun pagi, sementara orang lain terbiasa bangun lebih awal?

Alasan Orang Bisa Bangun Pagi dan Tidak

Tubuh manusia memiliki jam biologis yang membantu mengatur waktu tidur dan bangun. Jam biologis ini bekerja mengikuti ritme sirkadian, yaitu siklus alami tubuh yang berlangsung sekitar 24 jam.

Namun, waktu tidur alami setiap orang tidak selalu sama. Ada orang yang mudah bangun pagi dan merasa segar sejak awal hari, sedangkan orang lain baru merasa mengantuk pada malam yang lebih larut.

Kecenderungan waktu tidur seseorang ini disebut chronotype. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi waktu seseorang merasa paling siap untuk tidur maupun beraktivitas.

Masalah dapat muncul ketika jam biologis tidak sesuai dengan jadwal sehari-hari. Seseorang yang secara alami cenderung tidur larut, misalnya, tetap harus bangun pagi untuk bekerja atau kuliah.

Akibatnya, waktu tidurnya bisa lebih pendek pada hari kerja. Saat akhir pekan, ia mungkin tidur lebih lama dan bangun lebih siang karena tidak harus mengikuti jadwal yang sama.

Jika waktu tidur dan bangun berbeda cukup jauh antara hari kerja dan hari libur, pola tersebut bisa menunjukkan adanya social jetlag. Para peneliti biasanya mengukurnya dengan membandingkan titik tengah waktu tidur pada hari kerja dan hari bebas aktivitas.

Tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients pada 2021 juga merangkum penelitian tentang hubungan social jetlag dengan kesehatan. Sejumlah penelitian yang ditinjau menemukan kaitan dengan durasi dan kualitas tidur yang lebih buruk serta kemungkinan gangguan pada fungsi kognitif dan kesehatan metabolik.

Meski begitu, bukti mengenai sejumlah dampak tersebut masih terus berkembang. Pengaruh social jetlag juga perlu dibedakan dari faktor lain, seperti kurang tidur dan kebiasaan sehari-hari.

Untuk mengurangi perbedaan waktu tidur yang terlalu jauh, seseorang dapat mencoba menjaga waktu bangun tetap konsisten, termasuk saat akhir pekan. Jika terbiasa tidur terlalu larut, waktu tidur bisa dimajukan secara bertahap agar tubuh lebih mudah menyesuaikan diri dengan jadwal aktivitas.

Kurangi Paparan Cahaya Jelang Tidur

Mendapatkan cahaya alami pada pagi hari dan mengurangi paparan cahaya terang menjelang tidur juga dapat membantu mengatur jam biologis tubuh.

Pada akhirnya, social jetlag bukan sekadar kebiasaan bangun siang saat akhir pekan. Fenomena ini berkaitan dengan ketidaksesuaian antara waktu tidur alami seseorang dan jadwal yang harus dijalani sehari-hari.

Artikel ditulis Muhammad Fikri Haikal Saragih, peserta Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Bukan Tanda Tidur Nyenyak, Ngorok Bisa Jadi 'Bahaya' "
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads