Nasi panas yang baru matang memang paling enak langsung disantap. Aromanya yang harum, teksturnya pulen, apalagi kalau dimakan bersama lauk favorit.
Ada anggapan bahwa nasi dingin justru lebih baik dari nasi panas untuk kesehatan. Benarkah demikian?
Perubahan suhu nasi memang dapat mempengaruhi struktur pati di dalamnya, terutama ketika nasi yang sudah matang didinginkan . Saat nasi dingin, sebagian pati dapat berubah menjadi pati resisten (resistant starch).
Jenis pati ini lebih sulit dicerna di usus halus dan dapat mencapai usus besar, sehingga tidak langsung meningkatkan kadar gula darah seperti pati yang mudah dicerna.
Perubahan ini menarik perhatian peneliti karena pati resisten dapat membuat respons gula darah setelah makan menjadi lebih rendah. Jadi, bukan sekadar nasi panas versus nasi dingin, tetapi ada proses kimia di balik semangkuk nasi yang sudah didinginkan.
Dilansir dari penelitian Sonia dkk (2015), disebutkan kandungan pati resisten pada nasi putih meningkat setelah didinginkan. Nasi yang baru matang mengandung sekitar 0,64 gram pati resisten per 100 gram, sedangkan nasi yang didinginkan selama 24 jam pada suhu 4 derajat Celsius lalu dipanaskan kembali mencapai 1,65 gram per 100 gram.
Bukan cuma kandungannya yang berubah. Dalam penelitian yang sama terhadap 15 orang dewasa sehat, nasi yang telah didinginkan lalu dipanaskan kembali menghasilkan respons glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi yang baru matang. Nilainya sekitar 125 dibanding 152 mmol·min/L.
Lantas, apakah berarti nasi dingin otomatis lebih sehat? Belum tentu juga. Cara penyimpanan, jumlah nasi yang dimakan, lauk pendamping, dan kondisi kesehatan seseorang juga tetap berpengaruh.
Simak Video "Video: Nestapa Korban Banjir di Aceh Tamiang, Meninggal di Tempat Pengungsian"
(astj/astj)