Cerita Pendeta Gereja Chapel USU yang Mengabdi 24 Tahun hingga Diusir Paksa

Cerita Pendeta Gereja Chapel USU yang Mengabdi 24 Tahun hingga Diusir Paksa

Rechtin Hani Ritonga - detikSumut
Selasa, 11 Agu 2026 06:31 WIB
Pendeta Gloria Irene Bale (Rechtin Hani Ritonga/detikSumut)
Foto: Pendeta Gloria Irene Bale (Rechtin Hani Ritonga/detikSumut)
Medan -

Pendeta Gloria Irene Bale, yang sehari-hari memimpin ibadah di Gereja POUK Chapel Universitas Sumatra Utara (USU) bercerita terkait kejadian pengosongan dan pengusiran paksa dirinya dari gereja. Irene sendiri sudah 24 tahun mengabdi di Gereja Chapel USU.

Saat pengosongan paksa, Irene sendiri tidak ada di lokasi. Sebab, dirinya sedang menghadiri pemeriksaan di Polda Sumut.

"Kami patuh kepada pemerintah, kami patuh kepada Menteri Agama, kami patuh kepada Kapolri. Kami sedang diperiksa saya di sana, mereka datang mengosongkan rumah Tuhan ini dalam waktu kira-kira 1 jam," ujar Gloria saat diwawancarai detikSumut, Senin (10/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gloria mengatakan, barang-barang pribadi di ruangannya juga diambil secara paksa oleh pihak yang mengatasnamakan USU.

ADVERTISEMENT

"Rice cooker, minuman semua, utilitas diputus sama mereka. Luar biasa biadabnya, jahatnya. Di mana keadilan, di mana kebenaran di dunia ini, di Indonesia ini? Bapak Presiden, Bapak Wakil Presiden Gibran, Kapolri, Kapolda, Menteri Agama, turun tanganlah," ungkap Gloria.

Hal yang paling menyedihkan bagi Gloria adalah pengrusakan altar. Menurutnya, itu adalah tempat sehari-hari jemaat Gereja dibina secara rohani.

"Mereka bekerja sama untuk merampok barang-barang yang ada di sini. Ini miliknya Tuhan, miliknya jemaat. Lihatlah altar, tempat jemaat menerima pembinaan rohani. Ini sangat kudus. Altar, tempat berkhotbah, tempat menyampaikan warta, doa syafaat, tempat liturgis, sudah mereka angkut semuanya. Simbol-simbol keagamaan yang sangat penting semua sudah dirusak oleh mereka. Lihatlah ini, Bapak Presiden yang kami hormati, kami minta keadilan, kebenaran dinyatakan," kata Gloria sembari menunjuk kondisi altar yang sudah hancur.

Menurut Gloria, dirinya sudah melayani di Gereja POUK Chapel USU selama 24 tahun. Ia juga kerap diundang Polda Sumut untuk menjadi penceramah.

"Saya sudah lama melayani di sini, 24 tahun. Kalian semua tahu, siapapun tahu, para dosen, jemaat, semua. Bahkan saya juga adalah pembina di Polda. Saya biasanya datang di Polda untuk memberikan ceramah firman Tuhan," ungkapnya.

Namun, ungkap Gloria, dirinya justru dilaporkan ke Polda Sumut dengan dugaan pencemaran nama baik. Ia dituduh merusak pagar yang menutupi Gereja Chapel pada April 2026 lalu.

"Kali ini saya dipanggil 2 kali dengan LP pengrusakan pagar dan pencemaran nama baik. Saya juga dosen di USU, dosen metrologi. Saya juga mengajar, dulu diminta saya di Fakultas Pertanian, begitu juga di Teknik Industri. Saya cinta kepada USU, saya cinta kepada kita semua yang ada di sini," ucapnya.

Ia mengaku kecewa dengan tindakan pihak USU yang diduga melakukan pengosongan secara paksa di Gereja Chapel.

"Saya memberikan kontribusi di dalam pelayanan ini. Beginilah yang mereka balas kepada saya dan jemaat yang kami bina, mahasiswa, alumni yang sudah banyak berhasil di seluruh Indonesia dan di dunia," katanya.

Gloria berharap pihaknya bisa mendapatkan keadilan. Ia juga meminta perhatian dari para pejabat negara.

"Dihancurkan gereja ini, dirampok secara biadab. Saya katakan biadab. Tidak adil, tidak benar perbuatan mereka ini. Kami minta pimpinan kami yang tertinggi, Presiden, tolong, Bapak, turun tanganlah menyelesaikan masalah ini. Bukankah Menteri Agama melalui Bapak Gugun Gumilar, tanggal 2 Agustus sudah datang, sudah menyampaikan semua pesan dari Menteri Agama, dan mereka langgar, mereka belakangi?"

"Pak, tolong, Pak, nyatakan kebenaranmu, keadilanmu kepada mereka semua ini yang melakukan tindakan sewenang-wenang. Ini adalah pelanggaran HAM. Pastori seorang pendeta, dibobol sama mereka. Pintu dibobol, rice cooker diambil semua. Tempat kami untuk makan, kursi-kursi, gorden, semuanya sudah tidak ada lagi," tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, puluhan jemaat Gereja POUK Chapel Universitas Sumatra Utara (USU) menangis usai pihak USU diduga mengosongkan secara paksa seluruh barang-barang yang ada di dalam gereja.

Dari amatan detikSumut di lokasi pada Senin (10/8/2026), puluhan jemaat tampak menangis di depan altar. Mereka meratapi meja altar yang sudah diangkut dan kabel-kabel listrik yang berserakan di ruang utama gereja.

Beberapa bola lampu juga terlihat berjatuhan di lantai. Serta beberapa vas bunga yang digunakan untuk menghias ruangan.

Diketahui, konflik internal antara pihak jemaat gereja dengan pihak USU terjadi sejak April 2026. Pihak jemaat gereja menentang surat rektor terkait permintaan pengosongan gereja dengan alasan renovasi.

Jemaat menilai, bangunan gereja masih dalam kondisi sangat layak dan tidak memerlukan renovasi. Dari keterangan pers yang diberikan, pihak jemaat gereja menilai permintaan pengosongan gereja untuk alasan renovasi tidak tepat lantaran gereja masih digunakan jemaat untuk beribadah.

Halaman 2 dari 3


Simak Video "Video: Polisi Tetapkan 2 Pengusir Nenek Elina Jadi Tersangka"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads