Jemaat Sedih Usai Pihak USU Diduga Kosongkan Paksa Gereja POUK Chapel

Jemaat Sedih Usai Pihak USU Diduga Kosongkan Paksa Gereja POUK Chapel

Rechtin Hani Ritonga - detikSumut
Senin, 10 Agu 2026 15:39 WIB
Jemaat Gereja POUK Chapel USU berdoa usai pengosongan paksa.
Jemaat Gereja POUK Chapel USU berdoa usai pengosongan paksa. (Foto: Rechtin Hani Ritonga/detikSumut)
Medan -

Puluhan jemaat Gereja POUK Chapel Universitas Sumatra Utara (USU) histeris usai pihak USU diduga mengosongkan secara paksa seluruh barang-barang yang ada di dalam gereja.

Dari amatan detikSumut di lokasi pada Senin (10/8/2026), puluhan jemaat tampak menangis di depan altar. Mereka meratapi meja altar yang sudah diangkut dan kabel-kabel listrik yang berserakan di ruang utama gereja.

Beberapa bola lampu juga terlihat berjatuhan di lantai. Serta beberapa vas bunga yang digunakan untuk menghias ruangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua LBH Majelis Umat Kristen Indonesia (MUKI), Deddy Mauritz Simanjuntak mengatakan, kejadian pengosongan paksa ini terjadi saat pihaknya tengah menghadiri pemeriksaan di Polda Sumut. Pemeriksaan itu melibatkan Pendeta Gloria Bale yang merupakan Pastor yang memimpin ibadah di Gereja POUK Chapel USU.

"Jadi pada hari ini, kami melakukan pendampingan terhadap Ibu Pendeta Gloria Bale. Beliau dilaporkan ke Polda Sumatera Utara untuk LP yang ke-2 kalinya, dengan tuduhan pencemaran nama baik, sesuatu yang dia sendiri bingung, pencemaran nama baik apa yang dia lakukan. Nah, pada saat kami kurang lebih pukul setengah 11, mendampingi Ibu Pendeta Gloria Bale, si penyidik masih buka laptop, tiba-tiba kita dapat informasi dari teman kita di sini bahwa ada 10 truk dari Universitas Sumatera Utara yang melakukan pengosongan gereja," ujar Deddy saat diwawancarai di Gereja POUK Chapel USU, Senin (10/8/2026).

ADVERTISEMENT

Mendapatkan informasi tersebut, Deddy mengatakan, pihaknya memutuskan untuk menghentikan pemeriksaan tersebut serta meminta izin kepada penyidik untuk kembali ke gereja.

"Sempat ketemu (dengan pihak yang mengosongkan), tapi kita sudah lihat bahwa gereja itu berada dalam kondisi yang porak-poranda. Semua barang-barang, termasuk barang-barang pribadi yang harusnya, itu tidak bisa diambil dengan paksa karena ada undang-undang yang melindungi hal tersebut. Itu dilakukan oleh mereka yang mengatasnamakan Universitas Sumatera Utara," jelasnya.

Dikatakan Deddy, terkait konflik internal antara jemaat gereja dengan pihak USU, sudah dilakukan mediasi beberapa kali. Dua minggu yang lalu, kata Deddy, pihaknya telah mediasi bersama staf khusus Menteri Agama RI Gugun Gumilar dan diminta untuk dilakukan kesepakatan di antara kedua belah pihak.

"Ya bagi kami ini sebenarnya adalah sebuah pelanggaran hak asasi manusia yang akut, karena 2 minggu yang lalu di tempat ini, staf khusus Menteri Agama berbicara atas nama Menteri Agama, lho. Dia katakan Menteri Agama menyampaikan, jadi dia bukan berbicara atas nama pribadi. Mengajak supaya kedua belah pihak berdamai, dan setelah itu, setelah ada kesepakatan, baru dilakukan renovasi," katanya.

Deddy juga menyesalkan pengosongan secara paksa dilakukan secara sepihak. Termasuk beberapa barang pribadi pendeta.

"Tapi ini terbukti bahwa Universitas Sumatera Utara tidak mempedulikan apa yang menjadi arahan dari Menteri Agama Republik Indonesia. Ini sangat sistematis, dilakukan saat kami tengah menghadiri pemeriksaan di Polda Sumut," katanya.

Diketahui, konflik internal antara pihak jemaat gereja dengan pihak USU terjadi sejak April 2026. Pihak jemaat gereja menentang surat rektor terkait permintaan pengosongan gereja dengan alasan renovasi.

Jemaat menilai, bangunan gereja masih dalam kondisi sangat layak dan tidak memerlukan renovasi. Dari keterangan pers yang diberikan, pihak jemaat gereja menilai permintaan pengosongan gereja untuk alasan renovasi tidak tepat lantaran gereja masih digunakan jemaat untuk beribadah.

"Perlu kami beritahukan bahwa seperti yang sudah kami sampaikan kepada teman teman Pers yang teman teman beritakan sebelumnya bahwa, gedung gereja dan pastori chapel ini berdiri megah seperti yang tampak seperti sekarang ini, dalam pembangunannya tidak ada menggunakan uang negara sepeserpun apalagi melibatkan kampus USU, gedung gereja ini berdiri atas partisipasi dari jemaat dan simpatisan," tulis keterangan pers Jemaat Gereja POUK Chapel beberapa waktu lalu.

Terkait pengosongan paksa ini, detikSumut telah mencoba mengkonfirmasi pihak Universitas Sumatra Utara. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak USU terkait kejadian ini.



(afb/afb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads