Kurang Tidur Bisa Bikin Berat Badan Naik Menurut Hasil Studi

Kurang Tidur Bisa Bikin Berat Badan Naik Menurut Hasil Studi

Elmy Tasya Khairally - detikSumut
Minggu, 02 Agu 2026 07:32 WIB
Ilustrasi berat badan berlebih
Foto: Getty Images/Myriam Borzee
Medan -

Banyak orang fokus mengatur pola makan dan rutin berolahraga saat ingin menurunkan berat badan. Namun, satu kebiasaan yang sering diabaikan ternyata juga memiliki peran besar, yaitu kualitas tidur.

Sejumlah studi terbaru menunjukkan bahwa kurang tidur dapat mempengaruhi hormon pengatur nafsu makan dan meningkatkan risiko kenaikan berat badan. Ketika waktu istirahat berkurang, tubuh dapat mengalami perubahan metabolisme yang membuat seseorang lebih mudah merasa lapar dan memilih makanan tinggi kalori.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga berat badan ideal bukan hanya soal apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana tubuh mendapatkan waktu pemulihan yang cukup setiap malam.

Dikutip detikHealth dari Fox News, studi yang diterbitkan dalam Annals of Internal Medicine pada 6 Juli 2026 itu melibatkan 95 orang dewasa dengan risiko kardiometabolik tinggi yang biasanya tidur selama tujuh jam atau lebih setiap malam.

ADVERTISEMENT

Para peserta menjalani dua periode penelitian. Pada periode pertama, mereka mempertahankan durasi tidur seperti biasanya selama enam minggu. Selanjutnya, selama enam minggu berikutnya, waktu tidur mereka dikurangi sekitar 90 menit setiap malam.

Hasil penelitian menunjukkan, pada akhir fase kurang tidur, berat badan peserta meningkat rata-rata sekitar 0,5 kg. Selain itu, lingkar pinggang mereka juga sedikit bertambah besar. Para peserta juga diketahui menghabiskan lebih banyak waktu untuk duduk, meski tingkat aktivitas fisik sedang hingga berat mereka tidak mengalami perubahan yang berarti.

Namun, meski berat badan meningkat, peneliti tidak menemukan perubahan signifikan pada massa lemak maupun massa otot peserta. Penelitian ini juga tidak memantau jumlah makanan yang dikonsumsi peserta sehingga penyebab pasti kenaikan berat badan tersebut belum dapat dipastikan.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi sekaligus pendiri HerMD, dr Somi Javaid, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa tidur memiliki peran penting dalam mengatur metabolisme tubuh.

Menurut Javaid, kurang tidur yang berlangsung dalam jangka panjang dapat menyulitkan tubuh mengendalikan berat badan. Ia menambahkan bahwa perempuan yang sedang memasuki masa menopause berpotensi lebih rentan mengalami kondisi tersebut karena gangguan tidur lebih sering terjadi pada fase tersebut.

Javaid juga mengungkapkan bahwa American Heart Association kini memasukkan tidur sebagai salah satu dari "Life's Essential 8", yaitu delapan faktor penting untuk menjaga kesehatan jantung. Organisasi tersebut merekomendasikan agar orang dewasa tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam.

Menurutnya, kurang tidur kronis bukan sekadar kebiasaan atau gaya hidup, melainkan kondisi yang perlu dipandang sebagai salah satu indikator penting kesehatan.

Meski hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan kurang tidur dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan, para peneliti menegaskan bahwa studi ini memiliki beberapa keterbatasan.

Salah satunya adalah durasi penelitian yang hanya berlangsung selama enam minggu. Waktu tersebut dinilai mungkin belum cukup untuk mendeteksi perubahan yang bermakna pada massa lemak tubuh karena perubahan komposisi tubuh biasanya membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan perubahan berat badan.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Tidur Lebih Berkualitas, Hidup Lebih Produktif: Solusi Ilmiah untuk Generasi Sibuk"
[Gambas:Video 20detik] (astj/astj)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads