Konsumsi Tempe Dapat Kurangi Resiko Alzheimer, Begini Faktanya

Konsumsi Tempe Dapat Kurangi Resiko Alzheimer, Begini Faktanya

Rindi Antika - detikSumut
Selasa, 19 Mei 2026 16:40 WIB
Ilustrasi Tempe
Ilustrasi tempe (Foto: Getty Images/iStockphoto)
Medan -

Alzheimer merupakan salah satu gangguan pada otak yang dapat menurunkan kemampuan berpikir hingga ingatan. Banyak yang menyebut bahwa mengkonsumsi tempe dapat menurunkan resiko terkena Alzheimer, berikut penjelasannya.

Melansir dari Jurnal of Ethnic Foods, Alzheimer merupakan penyakit yang bersifat neurodegeneratif dan menyerang saraf di otak. Penyakit ini diketahui dapat memburuk seiring berjalannya waktu.

"Penyakit Alzheimer adalah penyakit neurodegeneratif (kondisi kerusakan dan kematian sel-sel saraf di otak atau sumsum tulang belakang secara bertahap yang bersifat progresif) kronis dengan gejala demensia yang memburuk seiring waktu," tulis studi tersebut dilansir detikSumut, Senin (18/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

World Health Organization (WHO) mencatat setidaknya ada 1,2 juta penderita Alzheimer di Indonesia. Jumlah ini bahkan diperkirakan akan meningkat sebanyak 4 juta pada tahun 2050.

"Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan ada 50 juta orang yang menderita demensia dan memperkirakan jumlahnya akan meningkat hingga 82 juta orang pada tahun 2030. Pada tahun 2016, Indonesia memperkirakan bahwa 1,2 juta orang menderita penyakit Alzheimer dan akan meningkat hingga 4 juta orang pada tahun 2050," lanjut studi tersebut.

ADVERTISEMENT

Dalam studi yang sama, menyebutkan bahwa faktor genetik berperan pada perkembangan Alzheimer. Faktor genetis sendiri berperan sekitar 70 persen dalam perkembangan penyakit tersebut.

"Faktor genetik juga berperan dalam perkembangan penyakit Alzheimer. Risiko genetik penyakit Alzheimer diperkirakan sekitar 70%. Beberapa gen terlibat dalam etiopathogenesis (perkembangan) penyakit Alzheimer, termasuk TNF, cdk5, gsk3b, PSEN1, dan PSEN2,"

Mengkonsumsi tempe diketahui memberikan beberapa manfaat bagi kesehatan karena kandungan Isoflavon. Senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menurunkan resiko penyakit seperti penyakit neurodegeneratif

"Konsumsi tempe telah dilaporkan memberikan berbagai manfaat kesehatan, terutama karena adanya senyawa bioaktif yang disebut isoflavon. Isoflavon berpotensi bertindak sebagai antioksidan untuk melindungi sel dari stres oksidatif, sehingga menurunkan risiko banyak penyakit kronis, seperti penyakit kardiovaskular, kanker, dan penyakit neurodegeneratif ," tulis studi tersebut.

Dalam jurnal yang sama dijelaskan bahwa minyak yang diekstrak dari tempe kedelai putih berpotensi menurunkan resiko terkena penyakit Alzheimer. Hal ini dikarenakan minyak ekstrak tempe tersebut dapat menurunkan ekspresi gen yang terkait penyakit Alzheimer yaitu PSEN1, Gsk3b, cdk5, dan TNF.

"Minyak tempe yang diekstrak dari tempe kedelai putih memiliki senyawa PUFA termasuk omega-3 dan omega-6 dan memiliki kemampuan untuk secara signifikan menurunkan ekspresi gen terkait penyakit Alzheimer yaitu PSEN1, Gsk3b, cdk5, dan TNF . Dari temuan tersebut, minyak tempe berpotensi menurunkan resiko seseorang terkena penyakit Alzheimer. Oleh karena itu, minyak tempe lebih baik daripada minyak kedelai dalam mengurangi ekspresi gen dan memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi," lanjut studi tersebut.

Dari jurnal ini juga diketahui bahwa jumlah asam lipoat yang terkandung dalam minyak tempe berpotensi mengurangi resiko terkena penyakit Alzheimer. Pada penelitian lain juga ditemukan bahwa mengkonsumsi tempe dapat memperbaiki gangguan kognitif yang dialami lansia.

"Jumlah ALA (Alpha-Lipoic Acid) dalam minyak tempe hampir sama dengan minyak kedelai yang tidak melalui proses fermentasi. Hal ini membuktikan bahwa kultur tempe tidak mengkonsumsi omega-3 selama proses fermentasi. Dengan demikian, ALA dapat disarankan memiliki peran kecil dalam mengurangi risiko penyakit Alzheimer. Sebuah penelitian oleh Handajani juga menunjukkan bahwa mengonsumsi tempe dapat memperbaiki gangguan kognitif ringan pada lansia," demikian penjelasan studi tersebut.



(afb/afb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads