Tempe dari Balik Jeruji Besi

Sumatera Selatan

Tempe dari Balik Jeruji Besi

Dwi Apriani - detikSumbagsel
Jumat, 30 Okt 2026 02:00 WIB
Warga binaan di Lapas Perempuan Palembang sibuk membuat dan mengolah tempe dan turunannya demi membangkitkan kemandirian serta mengasah keterampilan selama di dalam lapas.
Foto: Warga binaan di Lapas Perempuan Palembang sibuk membuat dan mengolah tempe dan turunannya demi membangkitkan kemandirian serta mengasah keterampilan selama di dalam lapas. (detikSumbagsel/Irawan)
Palembang -

Mendengar kata Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) tentunya akan tergambar dengan horornya sel besi yang membatasi ruang gerak narapidana di dalamnya. Namun saat melangkah masuk ke dalam Lapas Perempuan Kelas II A Palembang itu, ternyata ada banyak kegiatan positif yang menjadi harapan baru bagi narapidana di sana.

Tak sekadar wastra, hidroponik, ataupun roti, tempe juga menjadi salah satu produk yang dihasilkan dari lapas tersebut. Bahkan, produk turunan tempe seperti keripik tempe juga diproduksi di lapas tersebut.

Kesibukan produksi tempe ini tergambar jelas saat awak media mengunjungi lapas perempuan tersebut. Di salah satu ruangan, sederet peralatan dan perlengkapan dapur terjejer rapi. Ada karung-karung berisi kedelai, mesin penggiling kedelai, rak-rak peragian, kompor, alat sealer plastik tempe hingga baskom-baskom besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tepat di ruangan tersebut, sekitar lima orang narapidana perempuan sibuk mengerjakan bagiannya masing-masing. Satu orang sibuk mencuci kedelai dalam baskom besar, dua orang dengan telaten menggiling biji-biji kedelai, sementara yang lain mempersiapkan rak peragian dan bungkus tempe.

"Ini rutinitas kita setiap hari. Kami membuat tempe menggunakan kedelai yang dipasok dari luar. Sebelum diproduksi, kualitas kedelai kita cek terlebih dulu, baru kita cuci bersih dan kemudian diolah," kata RA, salah satu narapidana saat ditemui di lokasi, Kamis (29/10/2026).

ADVERTISEMENT

RA mengaku tidak memiliki keterampilan atau pengalaman membuat tempe saat masih menghirup udara bebas. Kemampuan membuat tempe ini berasal dari pelatihan yang didapatnya selama dia menjadi penghuni di lapas tersebut.

Alih-alih terpuruk karena tidak bergerak bebas di dalam jeruji besi, RA menguatkan tekadnya untuk mengembangkan keterampilan diri untuk bisa lebih produktif.

"Di sini, banyak belajar dari pelatihan-pelatihan yang diberikan para pegawai lapas maupun dari pihak luar lewat program pemberdayaan perempuan. Saya mendalami proses pembuatan tempe, awalnya sulit beradaptasi dengan kedelai dan peralatan-peralatan yang ada, namun secara berangsur-angsur mulai memahami dan akhirnya terampil," kata RA.

Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Palembang saat memberikan pelatihan dan bantuan sarana prasarana pembuatan dan pengolahan tempe di Lapas Perempuan Palembang.Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Palembang saat memberikan pelatihan dan bantuan sarana prasarana pembuatan dan pengolahan tempe di Lapas Perempuan Palembang. Foto: Dok. Humas Pertamina Patra Niaga Sumbagsel

Dari sini juga, ia akhirnya mengerti cara memilih kedelai yang tepat, membentuk tempe sesuai takaran, membuat peragian hingga menjadi tempe mentah. Lalu juga mengolah tempe mentah menjadi keripik tempe.

"Tidak mudah awalnya, tapi lama-lama terbiasa. Modal pelatihan dan keterampilan ini bisa saya adaptasi nantinya jika keluar dari lapas," tekad RA.

RA mengaku untuk proses produksi memang tidak singkat, membutuhkan waktu yang panjang. Sebab, untuk menjadi tempe yang berkualitas dan sesuai dengan kualitas yang diinginkan, tempe harus melewati proses peragian yang cukup lama, bahkan berhari-hari.

Dalam kesehariannya, RA mengaku pihak lapas selalu memberi target kepada semua warga binaan atas jumlah tempe yang diproduksi. Target ini, kata RA, tidak dianggap sebagai beban. Karena dari target tersebut, mereka bisa memiliki tanggungjawab terhadap kinerjanya masing-masing.

"Senangnya itu, di sini bisa belajar, dan mengambil ilmu serta membiasakan diri untuk membuat dan mengolah tempe. Selain ilmu dan kemampuan, kami juga bisa mendapat keuntungan berupa pembagian komisi dari setiap tempe yang berhasil dipasarkan. Uangnya bisa ditabung untuk bekal saat keluar dari lapas ini," kata dia.

RA juga mengaku puas dengan hasil kinerjanya selama ini dalam proses pembuatan dan pengolahan tempe di lapas tersebut.

"Saya selalu senang jika tempe sudah jadi. Sesuai pesanan dan layak jual, apalagi konsumen suka. Ada kebanggaan tersendiri. Saya berharap dan berdoa, nantinya keluar dari sini (lapas), saya bisa membuka usaha kecil di luar sana, dan menjadi pengusaha tempe dan keripik tempe," kata dia.

Kepala LPP Kelas II A Palembang Desi Andriyani menjelaskan, program pemberdayaan untuk warga binaan telah dilaksanakan sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian dan pembinaan kepribadian yang merupakan salah satu tugas pokok dan fungsi Lapas Perempuan Palembang, Program pemberdayaan ini sudah dilaksanakan sejak Lapas Perempuan Palembang berdiri pada tahun 2008.

Program pemberdayaan perempuan ini terus berkembang setiap tahunnya dengan bantuan sinergi dari berbagai mitra stakeholder. Menurutnya, hal ini menyelaraskan program Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI dan Program Akselerasi Menteri IMIPAS khususnya di bidang Ketahanan Pangan.

Lapas Perempuan Palembang terus berupaya mengembangkan program kegiatan kerja produksi agar dapat mewujudkan mandiri pangan di Lapas Perempuan Palembang.

"Khusus untuk pembuatan dan pengolahan tempe, sudah dimulai sejak bulan Februari 2025. Pembuatan tempe yang merupakan salah satu produk pangan harian yang tinggi nutrisi dan dapat diolah secara rumahan serta dengan proses produksi yang mudah dipahami, membuat produksi tempe ini menjadi pilihan bagi Lapas Perempuan Palembang untuk mewujudkan Ketahanan Pangan di Lapas Perempuan Palembang," jelas Desi.

Saat ini ada lima orang warga binaan yang ikut dalam pembuatan dan pengolahan tempe. Mereka tidak hanya membuat tempe mentah, juga membuat produk turunan seperti tempe mendoan dan keripik tempe.

Dengan didukung oleh sarana prasarana CSR PT Pertamina Patra Niaga IT Palembang, Lapas Perempuan Palembang berhasil memproduksi minimal 25 kilogram tempe setiap harinya. Selain itu juga memenuhi 100 persen kebutuhan bahan makanan (Bama) tempe bagi warga binaan di dalam lapas tersebut.

"Dalam satu hari, Lapas Perempuan Palembang memproduksi minimal 25 kilogram tempe mentah dan 2 kilogram keripik tempe. Produk tempe yang diproduksi warga binaan dibeli oleh pihak ketiga (vendor) pengadaan Bama untuk memenuhi kebutuhan bama tempe bagi warga binaan," kata dia.

Desi juga menyebut, produk tempe dan turunannya ini juga dipasarkan oleh mitra LPP Palembang, yaitu Mendoan Ngapak, dijual kepada pegawai dan masyarakat melalui kegiatan pameran, serta dijual secara online melalui website Si Cantik.

"Pengolahan kedelai oleh warga binaan tidak hanya terbatas dalam produksi tempe mentah, warga binaan juga mengolah produk ini menjadi tempe mendoan dan keripik tempe," kata dia.

Keripik tempe ini diproduksi untuk meningkatkan nilai jual dari produk tempe tersebut, memperpanjang masa simpan serta memperluas target pasar agar produk olahan tempe ini dapat dijual kepada masyarakat luas. Desi menegaskan bahwa produk keripik tempe Lapas Perempuan Palembang juga sudah bersertifikasi Halal

Sebelum warga binaan mampu berdaya seperti saat ini, mereka sebelumnya sudah diberikan pelatihan keterampilan pembuatan tempe dan pengolahan produk turunannya, yang dilaksanakan melalui CSR PT Pertamina bekerja sama dengan instruktur yang merupakan praktisi UMKM tempe, yaitu Mendoan Ngapak dan Keripik Tempe Syahira.

"Pelatihan ini dilaksanakan selama 14 hari dan warga binaan mendapatkan sertifikat pelatihan," tukasnya.

Pertamina Patra Niaga Sumbagsel saat melihat prose pembuatan tempe di Lapas Perempuan PalembangPertamina Patra Niaga Sumbagsel saat melihat prose pembuatan tempe di Lapas Perempuan Palembang Foto: Dok. Humas Pertamina Patra Niaga Sumbagsel

Selain mendapat pelatihan, pemberdayaan ini juga didukung peralatan dan sarana prasarana pembuatan tempe dan produk turunannya. Hal ini dipenuhi melalui CSR dari PT Pertamina, seperti mesin penggiling kedelai, rak peragian, media perendaman (baskom), panci besar, kompor, alat sealer plastik tempe, alat spinner minyak (untuk keripik), cetakan tempe mendoan, hingga tampah peragian.

Ia menjelaskan, PT Pertamina Patra Niaga IT Palembang bersinergi dengan pihak instruktur dari Mendoan Ngapak dan Keripik Tempe Syahira yang menjadi mentor bagi Lapas Perempuan Palembang dalam memproduksi produk tempe dan turunannya.

"Untuk mengembangkan pemasaran produk kami ini, kami memasarkan produk ini ke skala nasional, melalui website Si Cantik yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat. Kami juga aktif mengikuti beberapa event nasional seperti IPPAFEST di Lapangan Banteng Jakarta, IPPAFEST di PIK Jakarta, serta terlibat dalam event pameran di luar lapas yang dapat menjangkau masyarakat luas, seperti UMKM Expo di PTC Mall, Pameran UMKM di Kambang Iwak, Gemilang Palembang Raya di Benteng Kuto Besak, dan Food Bazaar di OPI Mall," beber Desi.

Desi mengungkap program pemberdayaan untuk warga binaan ini memiliki tujuan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan, kemandirian, kesiapan mental dan kepercayaan diri agar dapat kembali ke masyarakat secara produktif serta mencegah pengulangan tindak pidana.

Selain pembuatan tempe, Lapas Perempuan Palembang juga sudah memiliki program pemberdayaan yang lain seperti tata boga Teras Cafe dan Bakery Le Panile, salon kecantikan, perkebunan dan hidroponik, ternak ikan, itik, angsa, dan ayam petelur, UMKM Kopi Si Cantik, UMKM Bakso Le Panile, menjahit, fashion, dan kerajinan tangan. Lalu ada program pemberdayaan membatik dan jumputan, tenun songket, pembuatan produk pastry dan kue, sablon mug, tumbler, dan kaos, jasa laundry, snack kemasan hingga anyaman serat pisang Abaca.

"Total keseluruhan dari program pemberdayaan di lapas ini diikuti oleh 123 orang warga binaan. Output dari program ini yakni menghasilkan nilai ekonomi bagi warga binaan melalui pembayaran upah/premi yang diterima setiap bulannya. Warga binaan juga mendapatkan keterampilan baru serta mendapatkan sertifikasi yang dapat digunakan sebagai modal untuk membuka usaha maupun mendapatkan pekerjaan setelah nantinya selesai menjalani pidana," terang dia.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi mengatakan program pemberdayaan ini dilaksanakan oleh PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Palembang yang telah dimulai dari tahun 2020.

Program pemberdayaan tersebut dinamakan Srikandi Mandiri, merupakan program yang berfokus pada pemberdayaan perempuan rentan seperti pada warga binaan di Lapas Perempuan Palembang.

"Kami melaksanakan setiap tahunnya, berupa kegiatan pelatihan kemandirian bersertifikat dan memberikan fasilitas penunjangnya, seperti kegiatan tempe dan turunannya. Kami telah memulainya pada tahun 2025 di mana mendukung juga ketahanan pangan bagi warga binaan serta pemasukan mereka di sana (dalam lapas)," jelasnya.

Jajaran Lapas Perempuan Palembang saat memperlihatkan hasil produksi tempe dan keripik tempe.Jajaran Lapas Perempuan Palembang saat memperlihatkan hasil produksi tempe dan keripik tempe. Foto: Irawan

Menurutnya, untuk kegiatan tempe ini sebetulnya warga binaan tidak hanya memproduksinya saja, mereka juga sudah bisa membuat produk turunannya seperti keripik tempe.

"Mereka para warga binaan ini bisa memiliki keterampilan dalam membuat tempe dan keripiknya. Di tahun 2025, kami telah memberikan kegiatan pelatihan kemandirian bersertifikat pada warga binaan di lapas ini," jelasnya.

Kepala Subseksi Bimbingan Kerja dan Pengelolaan Hasil Kerja Lapas Perempuan Kelas IIA Palembang, Yocke Mella Hijriah menambahkan warga binaan yang tergabung, mulai pembuatan hingga pemasaran produk tempe di lapas ini, ada sekitar 10 orang.

"Secara keseluruhan ada 10 orang," tukasnya.

Dia menerangkan bantuan dari Pertamina yang selama ini diberikan berupa kegiatan pelatihan pembuatan tempe dan produk turunannya, sarana prasarana penunjangnya seperti mesin penggiling kedelai, rak fermentasi tempe, dan lainnya.

"Kami juga sering mengajak lapas ini untuk promosi produknya di kegiatan pameran UMKM yang diselenggarakan oleh Pertamina maupun di kegiatan lain sebagai pendukung pemasaran dari produk olahan warga binaan tersebut," pungkasnya.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Pemerintah dan BI Luncurkan GPIPS untuk Ketahanan Pangan Nasional"
[Gambas:Video 20detik] (dai/csb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads