Kenaikan harga chipset mulai berdampak terhadap harga jual smartphone di Indonesia. Sejumlah produsen melakukan penyesuaian harga seiring meningkatnya biaya komponen dan perubahan kondisi pasar.
Country Manager & Director Motorola Indonesia Bagus Prasetyo mengatakan kenaikan harga chipset menjadi salah satu faktor yang mendorong penyesuaian harga smartphone menjelang akhir 2026.
"Harga chipset naik belakangan ini. Motorola pun menyesuaikan harga produknya dengan kondisi pasar saat ini," kata Bagus saat ditemui di Hotel Harper Palembang, Kamis (24/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Bagus, besaran penyesuaian harga berbeda-beda tergantung seri perangkat. Pada lini G Series, misalnya, kenaikan harga disebut dapat mencapai lebih dari Rp 500 ribu.
Dia mencontohkan salah satu perangkat yang saat pertama kali diluncurkan tahun lalu berada di kisaran Rp 1,6 juta. Kini, harga perangkat tersebut telah berada di atas Rp 2 juta.
Meski harga smartphone mengalami kenaikan, Bagus menilai pasar Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan. Motorola mencatat pangsa pasarnya dalam satu tahun terakhir berada di kisaran 1,2 persen.
Perusahaan menargetkan pangsa pasar tersebut meningkat menjadi sekitar 1,6 persen pada akhir September 2026.
Menurut Bagus, persaingan di pasar smartphone tidak hanya ditentukan oleh harga perangkat. Ketersediaan produk dan layanan purnajual juga menjadi bagian penting dalam menjangkau konsumen.
Karena itu, Motorola memperluas jaringan distribusi dan layanan ke berbagai wilayah Indonesia. Perusahaan menargetkan jaringan tersebut dapat menjangkau kota tier 3 dan tier 4, mulai dari Sabang hingga Merauke.
"Kami menargetkan jaringan distribusi dan layanan purnajual dapat semakin merata hingga kota tier 3 dan tier 4, mulai dari Sabang hingga Merauke," ujarnya.
Untuk wilayah Sumatera, Motorola menggandeng Belanja Royal Makmur untuk memperluas distribusi dari Aceh hingga Lampung. Ekspansi tersebut mencakup pasar tier 1 hingga tier 4 dengan menggandeng mitra peritel lokal dan pemain kunci di masing-masing provinsi.
Bagus menilai harga yang relatif terjangkau dan kelengkapan fitur masih menjadi salah satu pertimbangan konsumen dalam memilih smartphone. Karena itu, Motorola melihat pasar di berbagai daerah masih memiliki potensi untuk dikembangkan.
CEO Belanja Royal Makmur Raymond mengatakan pihaknya berkomitmen memperkuat distribusi Motorola di wilayah Sumatera, termasuk menjangkau daerah di luar kota-kota utama.
"Kami berkomitmen melakukan distribusi di Sumatera, dari Aceh hingga Lampung," kata Raymond.
Sementara itu, GM Belanja Royal Makmur Ronald mengatakan perluasan jaringan distribusi akan dilakukan dengan menggandeng mitra peritel lokal di setiap daerah.
Langkah tersebut ditujukan agar ketersediaan produk dan akses konsumen terhadap layanan Motorola dapat semakin luas.
Dengan perluasan distribusi tersebut, Motorola melihat peluang pertumbuhan pasar tidak hanya berada di kota besar. Konsumen di daerah hingga tier 3 dan tier 4 juga menjadi sasaran pengembangan jaringan perusahaan.
