Kualitas udara di Kota Palembang, masih menunjukkan level tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Konsentrasi partikel halus PM2.5 terpantau pada kisaran 100 hingga 200-an µg/m³.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan memburuknya udara ini terjadi sejak Senin (26/10) sore berdasarkan data di Stasiun PM2.5 Musi 2. Padahal pada pagi-sore sebelumnya udara Palembang berada pada kategori biru atau sedang.
"Hari ini kembali dalam kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Padahal sempat berada pada kategori biru atau sedang kemarin kemarin pagi hingga sore imbas hujan dan menurunnya hotspot," ujar Wandayantolis, Selasa (27/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data, kategori sangat tidak sehat terpantau pada pukul 00.00 WIB-03.00 WIB dengan angka PM2.5 sebesar 211,5 µg/m³ hingga 163,6 µg/m³. Pada pukul 04.00 WIB-07.00 WIB kualitas udara membaik menjadi tidak sehat dengan angka menurun pada rentang 141,5 µg/m³-129,4 µg/m³.
"Pukul 08.00 WIB angkanya kembali naik menjadi 160,2 µg/m³ atau kategori sangat tidak sehat," katanya.
Menurutnya kondisi ini masih perlu menjadi perhatian mengingat tingginya konsentrasi PM2.5 dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.
Menurutnya asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi penyebab buruknya kualitas udara di Palembang, khususnya yang terjadi di wilayah OKI dan sekitarnya.
"Masyarakat diimbau tetap menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap dan mengurangi aktivitas di luar ruangan," tambahnya.
