Kebakaran TNWK Belum Tuntas, 30 Hektare Lahan Masih Berasap

Lampung

Kebakaran TNWK Belum Tuntas, 30 Hektare Lahan Masih Berasap

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Senin, 19 Okt 2026 20:00 WIB
Kebakaran yang terjadi di TN Way Kambas.
Foto: Ilustrasi karhutla di Way Kambas (Dok. TNWK)
Lampung Timur -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, masih belum sepenuhnya padam. Hingga Senin (19/10/2026), sekitar 30 hektare lahan masih terindikasi terbakar atau mengeluarkan asap.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi mengatakan, penanganan karhutla telah berlangsung selama 24 hari sejak 25 September 2026. Pemadaman dilakukan melalui operasi darat dan udara dengan melibatkan sejumlah instansi terkait.

Sementara itu, operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk wilayah Lampung dihentikan sejak 18 Oktober 2026. Penghentian dilakukan karena tidak ditemukan awan potensial yang memenuhi syarat untuk penyemaian.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Operasi modifikasi cuaca dihentikan per tanggal 18 Oktober karena tidak ditemukan awan potensial untuk disemai," kata Aswarodi dalam laporan penanganan karhutla, Senin (19/10/2026).

OMC khusus untuk kawasan TNWK sebelumnya dilaksanakan selama tiga hari, yakni pada 11-13 Oktober 2026. Operasi tersebut melibatkan BPBD Lampung, BNPB, dan BMKG dengan menyasar wilayah yang terdeteksi memiliki titik panas.

ADVERTISEMENT

Dalam operasi itu, BNPB mengerahkan pesawat Cessna 208BEX dan helikopter FH 8HL yang berpangkalan di Bandara Internasional Radin Inten II, Lampung Selatan. Total tiga sorti penerbangan dilakukan dengan durasi 6 jam 16 menit dan penggunaan 3.000 kilogram bahan semai natrium klorida (NaCl).

Penyemaian pada 11 Oktober difokuskan di kawasan TNWK. Pada 12 Oktober, penyemaian diperluas ke TNWK dan Lampung Timur, sedangkan pada 13 Oktober mencakup Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Tulang Bawang.

OMC kemudian dilanjutkan pada 14-18 Oktober dengan sasaran Lampung dan Palembang, Sumatera Selatan. Namun, karena kondisi awan di Lampung tidak mendukung, penyemaian difokuskan ke wilayah Palembang.

Selain melalui OMC, pemadaman juga dilakukan menggunakan helikopter water bombing atau pengeboman air. Pada 18 Oktober, helikopter melakukan 35 kali penyiraman dalam satu sorti dengan estimasi area yang terkena siraman mencapai 3 hektare.

Secara kumulatif, operasi water bombing sejak 25 September hingga 18 Oktober telah dilakukan sebanyak 923 kali. Total area yang diperkirakan terkena siraman mencapai 124 hektare.

"Pemadaman darat difokuskan di titik B dan D, sedangkan water bombing difokuskan di area yang tidak dapat dijangkau oleh tim satgas darat," jelasnya.

Di sisi lain, satgas darat mengerahkan empat tim untuk melakukan pemadaman pada 18 Oktober. Petugas melakukan pemantauan menggunakan drone, memadamkan api di rawa Gelam, membuka jalur sekitar 6 kilometer menuju titik D, serta melakukan pemadaman di titik B.

Di titik B, petugas menggunakan tiga pompa portabel yang dirangkai secara seri dan dilengkapi jet shooter. Upaya tersebut berhasil memadamkan sekitar 2 hektare lahan di titik B dan 0,3 hektare di rawa Gelam.

Dengan tambahan tersebut, total luasan lahan yang berhasil ditangani melalui operasi darat sejak 25 September hingga 18 Oktober diperkirakan mencapai 192 hektare. Petugas juga menggunakan dua drone dan 26 unit jet shooter untuk mendukung pemadaman.

Meski demikian, hasil pemantauan drone masih menunjukkan sekitar 30 hektare lahan terindikasi terbakar atau mengeluarkan asap. Area tersebut tersebar di titik B seluas sekitar 3 hektare, titik C sekitar 13 hektare, serta titik D yang terdiri atas dua area masing-masing sekitar 8 hektare dan 6 hektare.

Aswarodi menyebut vegetasi yang rapat menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman. Selain itu, sumber air dari Sungai Way Pegadungan berjarak sekitar 1,5 kilometer dari titik api sehingga menyulitkan petugas dalam menjangkau lokasi.

Untuk mempercepat penanganan, BPBD Lampung bersama BNPB menyiapkan tambahan dukungan peralatan bagi satgas darat. Penambahan personel sebanyak 350 orang juga diharapkan dapat memperkuat upaya pemadaman di kawasan TNWK.

"Kita berharap bantuan peralatan dan penambahan personel berjumlah 350 ini mampu mengoptimalkan pemadaman melalui operasi satgas darat," ujarnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads