Asap Karhutla Way Kambas Menyebar, Siswa di Lampung Tengah Belajar Daring

Lampung

Asap Karhutla Way Kambas Menyebar, Siswa di Lampung Tengah Belajar Daring

Tommy Saputra - detikSumbagsel
Rabu, 14 Okt 2026 18:00 WIB
A young Asian female university student presents chart on her project study online via laptop at home during COVID-19 pandemic to practice social distancing. Stock photo.
Ilustrasi belajar daring. (Foto: Getty Images/iStockphoto/sengchoy)
Lampung Tengah -

Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, mulai menyebar ke wilayah lain. Sejumlah sekolah di Kabupaten Lampung Tengah terpaksa belajar daring dirumah.

Kondisi kegiatan daring itu bagikan oleh akun Facebook @Arifah Nurasih. Dalam postingannya, Arifah menuliskan rindu terhadap siswa-siswinya karena kegiatan belajar dilakukan secara daring.

"Sekolahan sepi tanpa kalian. Senin 12 Oktober 2026 kembali belajar daring karena kabut asap karhutla Way Kambas," tulisnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikonfirmasi terkait kondisi tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Tengah Nurohman membenarkan. Dia mengatakan keputusan tersebut dilakukan sejak pekan lalu.

"Iya benar, daring dimulai minggu lalu. Jadi kebijakan pembelajaran daring atau peliburan sementara di Kecamatan Bandar Surabaya dan Seputih Surabaya diterapkan sebagai langkah darurat untuk melindungi kesehatan siswa dari paparan kabut asap pekat akibat karhutla di Taman Nasional Way Kambas," katanya, Rabu (14/10/2026).

ADVERTISEMENT

Dampak dari asap karhutla Way Kambas katanya, memicu gangguan pernafasan para pelajar jika terus dipaksa untuk berkegiatan di luar rumah.

"Penurunan kualitas udara ini berisiko memicu gangguan pernapasan akut, sehingga sekolah memindahkan kegiatan belajar ke rumah secara sementara hingga kondisi membaik," jelasnya.

Nurohman menyampaikan pihaknya belum bisa memastikan kapan kegiatan tatap muka di sekolah dapat kembali berjalan, menurutnya hal itu bisa dilakukan jika kondisi asap imbas kebakaran Way Kambas bisa terkendali.

"Sampai sekarang kita masih evaluasi. Jika memang sudah tidak membahayakan, proses belajar mengajar akan dikembalikan seperti semula, tapi kalau indeks udara masih buruk kita tidak bisa paksa anak-anak untuk menghirup asap tersebut," ungkapnya.



(rep/rep)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads