Sumatera Selatan

Udara Palembang Masih Level Berbahaya Pagi Ini, Warga Keluhkan Asap

Irawan, A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Selasa, 13 Okt 2026 09:30 WIB
Foto: Warga Palembang mengeluhkan asap akibat karhutla (Irawan)
Palembang -

Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, masih berada pada kategori hitam atau level berbahaya, Selasa (13/10/2026). Angka kualitas udara sempat menyentuh 532,8 pada pukul 05.00 WIB dan masih berada di level tinggi pada pagi ini.

Berdasarkan data pemantauan Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang, angka kualitas udara Palembang pada pukul 08.00 WIB tercatat di angka 314,6.

"Meski mengalami penurunan dibandingkan angka tertinggi pada pukul 05.00 WIB, kondisi udara tersebut masih masuk kategori berbahaya," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis, Selasa (13/10/2026).

Diungkapkannya, asap yang menyelimuti wilayah Palembang masih berasal dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan sekitarnya.

Ia menjelaskan, pergerakan angin yang mengarah ke barat laut memengaruhi pergerakan asap dari wilayah tersebut hingga berdampak pada kualitas udara di Palembang.

"Iya masih dari wilayah OKI dan sekitarnya pergerakan asap di Palembang," katanya.

"Dengan kondisi kualitas udara yang masih berbahaya, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama pada pagi hari ketika konsentrasi polutan masih tinggi," sambungnya.

Masyarakat juga disarankan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus saat harus beraktivitas di luar rumah, menutup pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya asap, serta menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan.

"Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan, diminta lebih waspada terhadap dampak paparan asap," jelasnya.

Salah seorang warga OPI Jakabaring, Muthia, mengaku terganggu dengan kondisi kabut asap yang masih menyelimuti lingkungan tempat tinggalnya. Dia mengatakan asap tidak hanya terasa saat berada di luar rumah, tetapi juga masuk ke dalam rumah.

"Sudah susah bernapas, mata juga terasa perih. Kabut asap ini bahkan masuk ke dalam rumah," keluh Muthia saat ditemui di kawasan Opi, Jakabaring, Selasa (13/10/2026) pagi.

Muthia mengaku semakin khawatir karena di rumahnya terdapat anak yang masih kecil dan ibunya yang sudah lanjut usia (lansia). Menurutnya, kedua anggota keluarga tersebut lebih rentan terdampak kondisi udara yang buruk.

"Saya khawatir dengan anak saya yang masih kecil dan ibu saya yang sudah lansia. Asapnya masuk ke rumah, jadi kami juga sulit menghindari paparan," ujarnya.

Dia berharap kondisi udara di Palembang segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas dengan nyaman tanpa dihantui kabut asap.

"Kami harap pemerintah segera cepat mengatasi kabut asap ini," harapnya.

Sementara itu, Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Pemerintah Kota Palembang juga terus berupaya melakukan penanganan dan pemadaman kebakaran yang menjadi sumber kabut asap.

"Masyarakat diharapkan mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan, selalu menggunakan masker," ucapnya.

Kondisi kualitas udara yang berada dalam kategori berbahaya menjadi peringatan bagi masyarakat agar tidak mengabaikan dampak paparan asap karhutla. Penggunaan masker, pembatasan aktivitas luar ruangan, serta upaya mengurangi masuknya asap ke dalam rumah menjadi langkah perlindungan yang dapat dilakukan.

Warga yang mengalami sesak napas, batuk, iritasi mata, atau keluhan lain setelah terpapar asap perlu memperhatikan kondisi kesehatannya dan mencari pertolongan medis apabila gejala memburuk.



Simak Video "Kemendagri Beri Apresiasi Pemerintah Daerah Wilayah Sumatera"

(dai/dai)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork