Bermalam di OKI, Gubernur Sumsel Ingatkan Warga Tak Bakar Lahan

Sumatera Selatan

Bermalam di OKI, Gubernur Sumsel Ingatkan Warga Tak Bakar Lahan

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Senin, 12 Okt 2026 19:40 WIB
Gubernur Sumsel Herman Deru
Foto: Gubernur Sumsel Herman Deru (Dok. Humas Pemprov Sumsel)
OKI -

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru bersama Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Muchendi Mahzareki bermalam di tenda posko penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Jungkal, Kecamatan Pampangan, Sabtu (11/10) malam. Keduanya memantau sekaligus memberi dukungan kepada petugas pemadam yang masih berjuang memadamkan api.

Deru mengatakan penanganan karhutla membutuhkan kerja sama dan gotong royong seluruh pihak. Kondisi tahun ini dinilai lebih menantang karena kemarau berkepanjangan yang diperparah fenomena El Nino.

Menurut Deru, wilayah Desa Jungkal sudah sekitar tiga bulan tidak diguyur hujan. Hujan terakhir tercatat pada 27 Juni lalu. Akibatnya, sawah dan sumur mengering, debit air sungai menyusut, sementara lahan dan vegetasi rentan terbakar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi tersebut menambah tantangan bagi petugas, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut. Selain memadamkan api yang sudah muncul, mereka juga harus mengantisipasi potensi kebakaran baru yang dapat meluas akibat kondisi lingkungan yang kering dan tiupan angin.

"Kita harus sikapi ini dengan teguh, tapi sabar, serta terus berikhtiar," ujar Deru.

ADVERTISEMENT

Dia meminta masyarakat ikut membantu upaya penanganan karhutla dengan menghentikan sementara aktivitas pembakaran lahan. Pencegahan disebutnya menjadi langkah penting untuk menekan munculnya titik api baru sekaligus mengurangi beban petugas yang masih berjibaku di lapangan.

"Jadi sekarang stop dulu membakar. Kasihan dengan Manggala Agni, MPA, TNI dan Polri yang saat ini masih berjuang di lapangan memadamkan api," katanya.

Deru juga mengingatkan bahwa material kering, seperti ranting dan daun, dapat menjadi pemicu kebakaran. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api.

Desa Jungkal itu menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla di OKI. Berdasarkan data pemantauan yang disampaikan saat kunjungan, terdapat 47 titik panas dan sembilan titik api di wilayah tersebut.

Deru menyebut wilayah OKI sebagai salah satu daerah dengan jumlah titik panas dan titik api terbanyak saat ini. Kondisi geografis OKI yang memiliki banyak lahan gambut turut meningkatkan kerawanan kebakaran.

Sementara itu, Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan, Desa Jungkal merupakan salah satu wilayah yang masih menghadapi persoalan titik panas dan kepulan asap, terutama di kawasan perbatasan dengan Kecamatan Pangkalan Lampam.

"Saya minta maaf dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi kondisi asap saat ini," ujarnya.

Upaya pemadaman menghadapi kendala operasional. Helikopter untuk pengeboman air (water bombing) belum dapat mengudara karena jarak pandang yang rendah. Padahal, dukungan pemadaman dari udara dibutuhkan untuk membantu menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat.

Pada saat bersamaan, angin yang berembus ke arah utara membawa asap dari wilayah OKI menuju Kota Palembang. Kondisi ini membuat dampak karhutla meluas hingga mengganggu aktivitas masyarakat di luar wilayah kebakaran.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads