ISPA di Kota Jambi Tembus 11.539 Kasus Imbas Asap Karhutla

Jambi

ISPA di Kota Jambi Tembus 11.539 Kasus Imbas Asap Karhutla

Ferdi Almunanda - detikSumbagsel
Sabtu, 10 Okt 2026 17:00 WIB
Kabut asap pekat di Kota Jambi imbas karhutla
Foto: Kabut asap pekat di Kota Jambi imbas karhutla (Ferdi Almunanda)
Jambi -

Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Jambi mencapai 11.539 kasus selama periode 24 Agustus hingga 9 Oktober 2026 atau pada saat meningkatnya Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jambi. Selain ISPA, 1.362 kasus diare dan 517 kasus konjungtivitis atau peradangan pada selaput mata.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jambi, Doni Sumatriadi, mengatakan perkembangan kasus gangguan kesehatan masyarakat menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan dampak karhutla. Data penyakit tersebut dipantau melalui surveilans yang dikelola instansi terkait.

"Berdasarkan data surveilans yang kami pantau, ISPA menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian di tengah kondisi kualitas udara yang memburuk," kata Doni, kepada detikSumbagsel, Jumat (8/10/2026)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan Kota Jambi, kata Doni jumlah kasus ISPA harian mengalami fluktuasi cukup tajam. Angka tertinggi dalam grafik tercatat sebanyak 501 kasus pada 26 Agustus 2026. Jumlah tersebut kemudian turun menjadi 275 kasus pada 28 Agustus, sebelum kembali meningkat hingga 471 kasus pada 31 Agustus.

Memasuki September, kasus ISPA kembali naik turun. Pada 7 September tercatat 445 kasus dalam sehari, kemudian turun menjadi 337 kasus pada 8 September dan 274 kasus pada 10 September 2026.

ADVERTISEMENT

Tren tersebut berlanjut hingga Oktober. Pada 5 Oktober, kasus ISPA tercatat sebanyak 323 kasus, lalu turun menjadi 295 kasus pada 6 Oktober dan 229 kasus pada 7 Oktober. Sementara itu, grafik Dinkes Kota Jambi menunjukkan sebanyak 256 kasus pada 9 Oktober 2026.

Selain ISPA, kasus diare juga menjadi perhatian. Dalam grafik periode 24 Agustus hingga 9 Oktober 2026, total kasus diare mencapai 1.362 kasus. Jumlah kasus harian sempat melonjak menjadi 55 kasus pada 28 September, kemudian mencapai puncak 59 kasus pada 6 Oktober.

Pada 9 Oktober, kasus diare tercatat sebanyak 23 kasus dalam sehari. Meski lebih rendah dibandingkan lonjakan sebelumnya, kasus tersebut masih ditemukan selama periode pemantauan.

Sementara itu, total kasus konjungtivitis tercatat sebanyak 517 kasus. Grafik menunjukkan kasus harian sempat mencapai 25 kasus pada 21 September 2026. Pada 9 Oktober, jumlahnya tercatat sebanyak 5 kasus.

"Meski ketiga penyakit tersebut tercatat selama periode kabut asap, data Dinas Kesehatan Kota Jambi ini tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh kasus ISPA, diare, dan konjungtivitis disebabkan langsung oleh karhutla," kata Doni.

Doni juga mengatakan penanganan dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga kesiapsiagaan menghadapi dampaknya terhadap masyarakat. Pemantauan kondisi kesehatan dan kualitas udara diperlukan agar langkah penanganan dapat disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan.

"Data kasus ISPA ini perlu menjadi perhatian bersama. Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap," ujarnya

Doni Triadi mengimbau masyarakat tetap memperhatikan kondisi kesehatan, khususnya ketika kabut asap kembali menebal.

Masyarakat juga disarankan menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar ruangan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

"ISPA memang selalu menjadi perhatian utama kami. Ketika kualitas udara buruk jangan lupa untuk terus menggunakan masker saat beraktivitas di luar, dan tetap terus menjaga kesehatan serta perbanyak minum air putih," tutupnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads