Warga Jambi Keluhkan Kabut Asap Pekat, Cemas Kesehatan Anak

Jambi

Warga Jambi Keluhkan Kabut Asap Pekat, Cemas Kesehatan Anak

Dimas Sanjaya - detikSumbagsel
Senin, 05 Okt 2026 21:20 WIB
Kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi
Foto: Kabut asap yang menyelimuti Kota Jambi (Dimas Sanjaya)
Jambi -

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Jambi. Kondisi udara yang memburuk membuat orang tua harus ekstra waspada, terutama mereka yang memiliki anak balita.

Revina Indah Lestari (27), warga Simpang Rimbo, Kota Jambi mengaku putri pertamanya mengalami sejumlah keluhan pernapasan saat kabut asap melanda. Dia mengeluhkan kekhawatiran kesehatan buah hatinya yang kini berusia satu tahun tersebut.

Revina mengatakan napas anaknya terkadang terdengar serak. Kata dia, keluhan yang paling sering muncul adalah batuk kering, terutama pada malam hari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hidungnya juga sering tersumbat, kadang-kadang juga meler karena lendir yang dipicu iritasi partikel halus asap. Jadi waktu tidur malam sering terbangun karena tidak nyaman bernapas," kata Revina, saat menceritakan kondisi anaknya kepada detikSumbagsel, Senin (5/10/2026).

Kondisi tersebut membuat Revina semakin khawatir. Bukan hanya terhadap keluhan yang dirasakan anaknya saat ini, dia juga mencemaskan dampak paparan asap dalam jangka panjang terhadap kesehatan sang buah hati.

ADVERTISEMENT

"Kekhawatiran terbesar adalah dampak jangka panjang pada paru-parunya. Saluran napas balita itu masih sangat rentan dan dalam masa perkembangan," ujarnya.

Menurut Revina, kabut asap juga membuat aktivitas keluarga kecilnya berubah total. Berbagai kegiatan yang sebelumnya biasa dilakukan di luar rumah kini terpaksa dihentikan.

Aktivitas seperti jalan pagi dan berjemur di bawah sinar matahari pagi ditiadakan sama sekali. Revina memilih tidak membawa anaknya keluar rumah selama kondisi udara masih buruk.

"Ada rasa cemas melihat masa bermain aktifnya yang terpaksa dirampas karena udara di luar justru membahayakan kesehatannya," tuturnya.

Meski demikian, Revina mengaku kondisi putrinya mash bisa diatasi dengan mengurangi paparan kabut asap, atau belum sampai mendapat perhatian khusus dokter.

Untuk mengurangi paparan asap, Revina melakukan berbagai upaya di dalam rumah. Pintu dan ventilasi ditutup rapat. Dia juga rutin membersihkan lantai menggunakan kain pel lembap agar partikel debu halus tidak beterbangan.

Anaknya pun lebih banyak berada di dalam rumah. Revina berusaha membatasi paparan udara luar hingga kondisi kembali memungkinkan.

"Aktivitas berubah total. Yang pasti aktivitas luar ruangan seperti jalan pagi dan berjemur ditiadakan. Tidak membawa anak ke luar rumah," ujarnya.

Dia menilai kebakaran lahan yang berulang setiap tahun berdampak langsung terhadap masyarakat, termasuk anak-anak yang membutuhkan udara bersih untuk tumbuh dan berkembang.

"Penegakan hukum bagi pelaku pembakaran lahan, karena siklus tahunan ini mengorbankan hak anak-anak untuk menghirup udara bersih," katanya.

Keluhan sama juga diungkapkan Ririn Dwi Anggraini (28). Anak perempuannya berusia 11 bulan telah dua kali demam selama kabut asap dua bulan terakhir.

"Matanya sering berair. Selama kabut asap (anak) sudah dua kali demam," kata Ririn.

Selain buah hatinya, Ririn juga merasakan keluhan yang sama seperti mata perih, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Apalagi dia merupakan pedagang UMKM yang berjualan setiap hari.

"Saya juga kalau keluar rumah mata perih dan pilek. Baju-baju di jemuran berdebu," ujarnya.

Kualitas udara Kota Jambi, pada Senin (5/10/2026) pagi hingga siang hari masuk kategori berbahaya. Pantauan aplikasi IQAir per pukul 12.00 WIB, indeks kualitas udara AQI⁺ US Kota Jambi berada di angka 678.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads