Gabungan mahasiswa dari 15 perguruan tinggi di Sumatera Selatan menggelar aksi di halaman Kantor Gubernur Sumsel, Selasa (6/10/2026). Mereka ingin bertemu langsung dengan Gubernur Sumsel Herman Deru untuk menyampaikan tuntutan terkait kabut asap dan karhutla.
Koordinator aksi dari Universitas Indo Global Mandiri (UIGM), Johan mengatakan mahasiswa sengaja datang untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Herman Deru. Namun, mereka kecewa karena gubernur tidak berada di Palembang.
"Kami bersama kawan-kawan 15 kampus sepakat untuk turun hari ini, ingin menyampaikan langsung kepada Bapak Herman Deru. Cuma sangat disayangkan Bapak Herman Deru hari ini berada di Jakarta," kata Johan kepada wartawan, Selasa (6/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Johan mengatakan Wakil Gubernur Sumsel juga tidak berada di Palembang. Kondisi tersebut membuat mahasiswa yang telah datang sejak sekitar pukul 14.00 WIB kecewa.
"Kami dari kawan-kawan BEM seluruh Sumatera Selatan agak sedikit kecewa. Karena memang kami datang dari jam 2, tapi memang tidak ada dari tadi," ujarnya.
Meski demikian, mahasiswa memilih tetap bertahan di halaman Kantor Gubernur Sumsel. Johan mengatakan mereka masih menunggu Herman Deru datang untuk menemui massa.
"Kami tetap menunggu sampai Herman Deru datang ke sini, karena kami butuh sosok pemimpin," katanya.
Johan menilai upaya pemerintah dalam menangani karhutla perlu dievaluasi. Dia mengakui Pemprov Sumsel telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanganan, tetapi mahasiswa menilai hasilnya belum maksimal melihat kondisi kabut asap saat ini.
"Sebenarnya kalau dilihat dari Instagram Bapak Herman Deru itu sudah banyak. Cuma kita tahu upaya-upaya yang dilakukan berarti kurang maksimal," ujarnya.
Johan mengatakan mahasiswa menghargai upaya Pemprov Sumsel dalam menangani karhutla. Namun, mereka mempertanyakan kondisi kabut asap yang menurutnya semakin parah.
Johan juga menyoroti bantuan pemerintah pusat untuk penanganan karhutla di Sumsel, termasuk kendaraan operasional dan sumur bor. Menurutnya, mahasiswa ingin mengetahui secara transparan bagaimana anggaran dan bantuan tersebut digunakan untuk menangani karhutla.
"Kami dari kawan-kawan mahasiswa ingin transparansi juga salah satunya. Kalau memang ini menjadi PR yang memang besar, apa kabar dengan sebelum-sebelumnya?" katanya.
Menurut Johan, kondisi kabut asap kali ini dinilai lebih parah dibandingkan kejadian sebelumnya. Karena itu, mahasiswa meminta pemerintah menjelaskan langkah konkret yang dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut.
Dalam aksi tersebut juga sempat terjadi dinamika terkait seorang mahasiswa yang disebut menggunakan almamater Universitas Sriwijaya. Johan mengatakan persoalan tersebut telah dimediasi dengan pihak kepolisian.
"Kami sudah melakukan mediasi dengan beberapa pihak kepolisian. Kalau memang terbukti, silakan diproses dan langsung mediasi sama pihak kepolisian," ujarnya.
Johan menegaskan mahasiswa menyerahkan persoalan tersebut kepada proses hukum. Namun, dia berharap tidak ada tindakan represif terhadap mahasiswa yang terlibat.
"Kami menyerahkan sepenuhnya kepada hukum, tapi kami harap jangan sampai pihak kepolisian bertindak represif terhadap kawan kami," katanya.
