Gunung Anak Krakatau kembali erupsi setelah sempat tidak mengalami letusan selama sekitar 25 hari. Petugas pemantauan menyebut erupsi terbaru diduga berkaitan dengan energi vulkanik yang masih tersisa dari aktivitas sebelumnya.
Erupsi kembali terjadi pada Senin (5/10/2026) malam. Aktivitas letusan tercatat dua kali, yakni pada pukul 20.13 WIB dan 20.28 WIB.
Petugas Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Andi Suwardi, mengatakan kemunculan erupsi tersebut belum bisa langsung diartikan sebagai peningkatan aktivitas gunung api.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, jika erupsi hanya terjadi satu atau dua kali kemudian kembali berhenti, kondisi itu masih memungkinkan merupakan pelepasan energi yang tersisa dari aktivitas sebelumnya.
"Ya, ada energi aja keluar," kata Andi.
Andi menjelaskan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih perlu diamati dalam beberapa waktu ke depan. Peningkatan aktivitas baru dapat terlihat jika erupsi berlangsung terus-menerus dan memiliki intensitas besar.
"Kalau erupsinya terus berlanjut lagi, besar kayak kemarin, ya mungkin. Tapi kalau kayak gini, sekali dua kali, ya ada sisa energi kemarin yang kebuang," ujarnya.
Berdasarkan hasil pengamatan periode 00.00-24.00 WIB, tercatat empat kali gempa letusan atau erupsi. Gempa tersebut memiliki amplitudo 39-55 milimeter dengan durasi 20-798 detik.
Kolom erupsi tidak teramati secara visual karena kondisi gunung berubah dari terlihat jelas hingga tertutup kabut.
Aktivitas kegempaan lainnya juga masih terekam. Petugas mencatat dua kali gempa low frequency dengan amplitudo 6-11 milimeter dan durasi 7-9 detik.
Selain itu, tercatat lima kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 7-27 milimeter dan durasi 6-12 detik. Ada pula tiga gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 24-26 milimeter dan durasi 6-11 detik.
Satu kali gempa vulkanik dalam tercatat dengan amplitudo 9 milimeter dan durasi 13 detik.
Petugas juga merekam satu kali tremor menerus dengan amplitudo 0,5-10 milimeter dan amplitudo dominan 2 milimeter.
Sebelum kembali erupsi pada 5 Oktober, Gunung Anak Krakatau terakhir tercatat mengalami erupsi pada 10 September 2026 pukul 09.10 WIB.
Saat itu, erupsi terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 17 detik. Setelah hampir sebulan tanpa letusan, aktivitas erupsi kembali muncul pada Senin malam.
Andi mengatakan pihaknya masih akan melihat perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau berdasarkan data pemantauan.
"Ya, kemungkinan. Tapi kita lihat ke depan apa ada yang baru, apa yang bagus," ujarnya.
Dia menegaskan munculnya satu atau dua kali erupsi belum menjadi alasan untuk langsung menaikkan status Gunung Anak Krakatau. Evaluasi status dilakukan berdasarkan perkembangan aktivitas vulkanik dan menjadi kewenangan PVMBG.
"Belum, belum sepertinya. Sebenarnya itu kan kebijakan Bandung, tapi kalau cuma malam ini aja sih nggak akan naik," kata Andi.
Gunung Anak Krakatau hingga kini masih berstatus Level II atau Waspada. Gunung api tersebut memiliki ketinggian sekitar 157 meter di atas permukaan laut.
Dalam periode pengamatan, cuaca di sekitar gunung terpantau berawan. Angin bertiup lemah ke arah barat dan barat laut, dengan suhu udara 27,6-30 derajat Celsius serta kelembapan 74-87 persen.
Masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki tetap diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau. Aktivitas juga dilarang dilakukan dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.
"Imbauannya tetap dilarang mendekat ke Krakatau, radius dua kilometer," tegas Andi.
