Kualitas udara di Palembang masih buruk atau berada di level berbahaya, pada Selasa (6/10/2026). Di mana konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 masih berada di angka yang terbilang sangat tinggi yakni 815 881 µg/m³.
Berdasarkan pemantauan di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang dan Stasiun PM2.5 Talang Betutu milik BMKG, kualitas udara tercatat berada di level berbahaya sejak dini hari hingga pagi hari.
"Iya, kualitas udara masih dalam kategori berbahaya. Stasiun PM2.5 Musi 2 mencatat angka 815 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB. Sedangkan di PM2.5 Talang Betutu mencatat 765,8 µg/m³ pada pukul 03.00 WIB," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari data pemantauan di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang pada pukul 01.00 WIB angka PM2.5 di angka 307,2 µg/m³, kemudian angka tersebut terus meningkat setiap jamnya, hingga pada pukul 05.00 WIB berada di angka sangat tinggi yakni 815 µg/m³.
Setelah mencapai angka tertingginya, angkanya mulai berangsur menurun, pada 06.00 WIB di angka 810 µg/m³. Namun pada pukul 07.00 WIB turun cukup signifikan yakni 458,4 µg/m³ dan pada pukul 08.00 WIB di angka 180,1 µg/m³ di level sangat tidak sehat atau merah.
Sementara itu di Stasiun PM2.5 Talang Betutu angka PM.25 tertinggi tercatat pada pukul 03.00 WIB di angka 765,8 µg/m³ dan mengalami penurunan hingga pada pukul 08.00 WIB di angka 258,7 µg/m³.
"PM2.5 tercatat berada di level berbahaya atau hitam sejak dini hari hingga pagi hari. Namun di pagi hari angka PM.25 mulai berangsur menurun," ujarnya
Kota Palembang hingga saat ini masih diselimuti kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sehingga kualitas udara memburuk. Hal ini perlu menjadi perhatian terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
"Masyarakat yang berada di wilayah dengan konsentrasi PM2.5 tinggi disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai apabila harus beraktivitas di luar," imbaunya.
