Jeritan Warga Kabut Asap Selimuti Palembang: Sesak Napas dan Mata Perih

Round Up

Jeritan Warga Kabut Asap Selimuti Palembang: Sesak Napas dan Mata Perih

Tim detikSumbagsel - detikSumbagsel
Senin, 05 Okt 2026 09:00 WIB
Sejumlah pengendara melintas di atas jembatan Musi IV Palembang yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (4/10/2026). Berdasarkan pantauan aplikasi ISPUnet milik Kementerian Lingkungan Hidup, kualitas udara di Kota Palembng pada Minggu (4/10) masuk dalam kategori berbahaya akibat dampak dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dengan nilai indeks standar pencemaran udara mencapai angka 780. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU
Kabut Asap Selimuti Palembang, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya (Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)
Palembang -

Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan. Warga pun mengeluhkan sesak napas, mata perih dampak dari kabut asap tersebut.

Salah satu warga bernama Nina (22) mengaku mengalami mata perih saat berkendara ketika asap pekat menyelimuti Palembang.

Menurutnya, kabut asap yang menyelimuti Palembang lebih pekat dari sebelumnya dan sangat berbahaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sudah beberapa hari ke belakang cukup pekat asapnya, kalau sedang bermotor kadang mata terasa perih. Jadi kalau bukan karena kerja saya hanya di rumah, mengurangi aktivitas di luar karena untuk menjaga kesehatan," katanya, Minggu (4/10/2026).

Hal senada dikatakan warga lainnya bernama Neni (56) yang merasa cemas dan sakit akibat kabut asap dari karhutla.

ADVERTISEMENT

Bahkan, kata dia, sudah satu Minggu kebakaran karhutla di dekat rumahnya kawasan Talang Jambi. Akibat kebakaran itu, membuat warga cemas.

"Aduh Pak, kami sudah sesak napas, mata perih sudah seminggu karhutla dekat perumahan kami ini, terkadang api membesar malam hari kami tidak bisa tidur karena khawatir nanti merambat ke rumah," ujarnya.

Dia berharap pemerintah untuk fokus menangani karhutla ini agar tidak meluas ke wilayah-wilayah lainnya.

"Kami berharap betul sama pemerintah agar fokus penyelesaian karhutla ini," katanya.

Sementara itu, warga Palembang lainnya Amalia (37) juga mengaku hal yang sama mengalami sesak napas dan perih pada mata.

"Ya sesak napas, Pak, sama mata perih akibat asap dari karhutla ini," ungkapnya.

Asap pekat menyelimuti Palembang ini, kata dia, yang terparah dari sebelumnya dan pekatnya terjadi pada pagi, malam serta dini hari.

Dia meminta pemerintah untuk fokus mengatasi karhutla, sehingga masalah kabut asap segera berakhir.

"Beberapa hari ini kabut asap memang parah. Harapannya semoga pemerintah dapat menyelesaikan karhutla sehingga kabut asap segera hilang," harapnya.



(csb/csb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads