Kabut asap pekat dari kebakran hutan dan lahan (karhutla) masih menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan. Sejumlah warga cemas akan kesehatan dan memilih mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Pantauan detikSumbagsel di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Jembatan Ampera bahkan di Budaran Jakabaring (4/9/2026), terlihat kabut asap masih sangat pekat bahkan jarak pandang pun berkurang.
Kabut berwana putih tersebut tampak lebih pekat saat berada di atas Jembatan Ampera dan melihat ke arah Sungai Musi. Bahkan sesekali tercium bau asap dan terasa perih pada mata, khususnya pengendara sepeda motor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu warga Kecamatan Sukarami, Palembang, Nia (27) mengatakan dirinya selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Meski selalu menggunakan masker dirinya juga masih merasa takut terjadi masalah kesehatan, khususnya pernapasan.
"Sekarang kalau keluar rumah memakai masker terus, kadang sampai dua lapis. Ya sekarang saya lebih banyak minum air putih biar tidak dehidrasi, soalnya sekarang kemarau ditambah kabut asap juga," katanya.
Ia juga mengeluhkan perih pada bagian mata saat keluar rumah, apalagi saat berkendara motor. Terutama saat melintas di area yang cukup tebal kabut asapnya, seperti Jembatan Ampera dan Jalan Jenderal Sudirman.
"Tadi dari rumah mau ke Jakabaring, saat lewat itu kadang mata saya perih bahkan sempat tercium bau asap gitu. Saya juga bawa obat tetes mata kalau keluar ," ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh, Ipen (23) warga Kecamatan Gandus, Palembang, yang mengatakan kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang sejak beberapa minggu lalu hingga saat ini belum juga menghilang, bahkan menurutnya asap makin menebal.
"Di awal September 2026 itu sudah ada kabut asapnya, tapi semakin ke sini seperti tambah tebal. Apalagi kalau pagi dan malam hari," ujarnya.
Saat keluar rumah dirinya juga selalu menggunakan masker sebagai perlindungan diri dari kabut asap. Menurutnya, karhutla juga terjadi tidak jauh dari rumahnya beberapa waktu lalu dan berhasil dipadamkan.
"Minggu lalu lahan di sebelah sana (tidak jauh dari rumahnya) terbakar, tapi api berhasil dipadamkan. Ya saya berharap karhutla tidak ada lagi, sehingga kabut asap ini juga menghilang," katanya.
Berdasarkan pemantauan di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang milik BMKG, angka PM.25 berada pada kategori berbahaya sejak pukul 02.00 WIB dengan angka 358,7 µg/m³. Setelahnya angka tersebut terus meningkat, pukul 03.00 WIB sebesar 641,4 µg/m³, pukul 04.00 WIB sebesar 784,8 µg/m³.
Peningkatan terus terjadi hingga puncaknya pada pukul 05.00 WIB 903,6 µg/m³, dimana angka tersebut merupakan angka tertinggi sepanjang pemantauan. Namun setelah mencapai angka tertingginya, angkanya mengalami penurunan.
"Iya, masih dalam kategori berbahaya, sejak dini hari hingga pagi ini. Angkanya mencapai angka tertinggi pada pukul 05.00 WIB sebesar 903,6 µg/m³, di mana angka tersebut menjadi nilai tertinggi sepanjang pemantauan tahun ini," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan Wandayantolis.
Kemudian Pukul 06.00 diangka 673,4 µg/m³ dan masih terdeteksi tinggi dan berada di level bahaya. Namun terus mengalami penurunan, pukul 08.00 WIB berada di angka 271,7 µg/m³.
