Kualitas Udara Palembang Masih Berbahaya, Ini Penjelasan BMKG

Sumatera Selatan

Kualitas Udara Palembang Masih Berbahaya, Ini Penjelasan BMKG

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Minggu, 04 Okt 2026 07:30 WIB
Foto udara kawasan Musi II yang tertutup kabut asap di Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (5/9/2026). Berdasarkan citra satelit Himawari-9 yang dipantau BMKG pada 5 September 2026 pukul 10.00 WIB, sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Papua Selatan bergerak ke arah barat laututara, sedangkan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara bergerak ke arah utaratimur laut. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/kye
Foto: Ilustrasi kabut asap di Palembang (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)
Palembang -

Kualitas udara di Kota Palembang tak kunjung membaik selama beberapa hari terakhir. BMKG menyebut rata-rata harian dalam dua hari ini masuk kategori hitam atau berbahaya.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan buruknya kualitas udara terpantau dari Stasiun PM2.5. Dalam dua hari terakhir, yakni Jumat dan Sabtu, rata-rata konsentrasi PM2.5 berada di kisaran 350 µg/m³.

Angka tersebut jauh di atas ambang kategori berbahaya dalam indeks kualitas udara berbasis PM2.5 di angka 250,5 µg/m³.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Catatan BMKG berdasarkan konsentrasi PM2.5 dan maksimum harian, pada 2 dan 3 Oktober tercatat pada kategori berbahaya. Angka rata-rata di atas 350 µg/m³," ujarnya, Sabtu (3/10/2026).

Dia menyebut, rata-rata harian pada kategori berbahaya sebelumnya pernah tercatat pada 30 September. Saat itu angka PM2.5 di kisaran 310 µg/m³. Sedangkan pada 29 September dan 1 Oktober, meski mengalami penurunan, levelnya masih sangat tidak sehat atau kisaran 250 µg/m³.

ADVERTISEMENT

Artinya, udara dengan konsentrasi PM2.5 pada level berbahaya bukan hanya terjadi dalam hitungan jam. Kondisi tersebut tercatat berulang dalam beberapa hari terakhir.

"Bahkan, angka PM2.5 sempat tembus angka tertinggi 828,3 µg/m³ pagi tadi pukul 06.00 WIB. Angka tersebut menjadi lonjakan tertinggi yang tercatat dalam periode pemantauan tahun ini," ungkapnya.

Sehari sebelumnya, Jumat (2/10), konsentrasi PM2.5 juga berada pada level ekstrem. Di Stasiun Musi 2, PM2.5 tercatat mencapai 652,7 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB. Sementara di Stasiun Talang Betutu, konsentrasinya mencapai 592,5 µg/m³ pada waktu yang sama.

Bahkan, secara visual asap terlihat pekat, membuat sesak pernapasan dan mata perih. Kondisi ini dapat membahayakan masyarakat, karena partikel berukuran sangat kecil dapat masuk ke dalam sistem pernapasan.

"Paparan terhadap udara luar perlu menjadi perhatian masyarakat. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan menjadi kelompok yang perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara berada pada level berbahaya," terangnya.

"Masyarakat juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di tengah kondisi udara yang buruk," tukasnya.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads