Musim Hujan di Sumsel Mulai November, Wilayah OKI Diperkirakan Lebih Lambat

Sumatera Selatan

Musim Hujan di Sumsel Mulai November, Wilayah OKI Diperkirakan Lebih Lambat

A Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Minggu, 04 Okt 2026 06:30 WIB
Ilustrasi Cuaca Ekstrem
Foto: Ilustrasi cuaca ekstrem (detikcom)
Palembang -

Musim hujan di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan diprediksi baru akan terjadi pada November 2026. Namun, wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) diperkirakan mengalami awal musim hujan lebih lambat.

"Iya, musim hujan di sebagian besar wilayah Sumsel akan mulai terjadi November mendatang. Kecuali di OKI baru mulai musim hujan awal Desember," ujar Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis, Sabtu (3/10/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi posisi geografis OKI yang berada lebih ke selatan dibandingkan wilayah Sumsel lainnya. Posisi tersebut membuat masuknya monsun Asia ke wilayah OKI berlangsung lebih lambat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"OKI lebih lama karena dari segi posisi lebih ke selatan dari datangnya monsun Asia. Kemudian kondisi topografi dan faktor lokal lainnya," katanya.

Wandayantolis juga membandingkan kondisi musim kemarau tahun ini dengan fenomena El Nino pada 2023. Saat itu, musim kemarau di Sumsel berlangsung hingga Oktober dan aktivitas titik panas atau hotspot masih cukup tinggi meskipun hujan mulai turun di sejumlah wilayah.

ADVERTISEMENT

"Jika mengacu (dibandingkan) El Nino 2023, kemarau di Sumsel sampai Oktober dan hotspot masih tinggi meski sudah mulai ada hujan," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat di Sumsel masih perlu mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama selama periode peralihan menuju musim hujan.

Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah belum serta-merta menandai berakhirnya seluruh kondisi kering di Sumsel.

"Terkait dengan angka hotspot Sumsel kemarin, dari data Sipongi terpantau masih tinggi di angka 2.426 titik. Terpantau hotspot di lahan gambut sebanyak 1.749 titik dan mineral 677 titik," katanya.

Wilayah OKI tercatat paling banyak dengan 1.564 titik (gambut 1.095 titik dan mineral 469 titik). Disusul Musi Banyuasin 356 titik (gambut 311 titik dan mineral 45 titik) dan Banyuasin 320 titik (gambut 283 titik dan mineral 37 titik).



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads