Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, telah mencapai sekitar 7.000 hektare sepanjang 2026. Balai TNWK mencatat terdapat 21 kejadian karhutla selama periode tersebut.
Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, mengatakan luasan lahan yang terbakar tahun ini meningkat dibandingkan 2025. Namun, angka tersebut masih berada di bawah luasan kebakaran pada periode El Nino 2023 dan 2024.
"Sepanjang tahun 2026, karhutla di kawasan TN Way Kambas telah tercatat 21 kejadian, luas yang terbakar tercatat sekitar 7.000 hektare," kata Zaidi, Jumat (2/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zaidi memastikan tidak ada lokasi yang tercatat mengalami kebakaran berulang pada tahun ini. Setiap kejadian karhutla terjadi di lokasi yang berbeda.
"Untuk tahun ini tidak tercatat pengulangan di satu lokasi yang sama," ujarnya.
Menurut Zaidi, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai dalam penanganan karhutla. Dia berharap hujan segera turun sehingga kondisi lahan kembali basah dan potensi kebakaran dapat ditekan.
"Untuk luasan area terbakar mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2025, namun masih lebih rendah dibandingkan periode El Nino 2023 dan tahun 2024. Semoga hujan segera turun sehingga api padam, kondisi lahan basah dan tidak mudah terbakar," jelasnya.
Zaidi mengatakan pencegahan karhutla di kawasan konservasi tidak dapat dilakukan hanya oleh Balai TNWK. Dibutuhkan penguatan kolaborasi dengan pemerintah daerah, masyarakat desa penyangga, dunia usaha, TNI/Polri, hingga berbagai pihak lainnya.
Dia menilai penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran juga menjadi bagian penting dalam mencegah kejadian serupa.
"Upaya penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran membutuhkan dukungan dari aparat penegak hukum bersama-sama dengan Polhut/PPNS TNWK," katanya.
Zaidi menegaskan penanganan karhutla harus dilakukan secara bersama, terutama dalam mendeteksi dan merespons api sejak tahap awal.
"Pencegahan atau penindakan terhadap kejadian karhutla tidak mungkin dilakukan oleh TNWK sendiri. Upaya bersama dalam kecepatan mendeteksi dan merespons api pada tahap awal lebih penting agar api tidak pernah muncul lagi di TNWK, artinya zero fire spot," tegasnya.
Di sisi lain, Balai TNWK tetap melakukan pemantauan terhadap satwa liar yang berada di kawasan hutan, termasuk satwa kunci seperti gajah dan harimau.
Patroli rutin dilakukan dengan mencatat dan merekam temuan sekunder satwa di dalam kawasan. Selain itu, keberadaan gajah dipantau menggunakan GPS collar yang dapat memberikan informasi secara realtime.
"Sampai saat ini belum ditemukan kejadian kematian satwa di bekas lokasi kebakaran," ungkap Zaidi.
