Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur belum sepenuhnya padam. Petugas menyebut ada lima titik api dari enam hotspot yang terpantau pada Selasa (29/9/2026).
Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun mengatakan, lima dari enam hotspot yang terdeteksi melalui aplikasi Sipongi dan data BMKG Lampung telah dikonfirmasi sebagai titik api nyata atau real hotspot.
"Pada pemantauan terakhir ditemukan enam hotspot dan lima di antaranya merupakan real hotspot. Penanganan terus dilakukan bersama instansi terkait untuk mencegah api meluas," katanya, Rabu (30/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Yuni, upaya pemadaman dilakukan secara terpadu dengan mengerahkan personel gabungan dari TNWK, TNI, Polri, BPBD, Mitra KHS, Mitra RPU YABI, serta masyarakat.
"Ada 150 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman melalui jalur darat dan udara," ujarnya.
Sebanyak dua unit helikopter juga dikerahkan untuk melakukan pemadaman melalui metode water bombing, terutama di lokasi yang sulit dijangkau petugas.
Di jalur darat, petugas menggunakan lima unit pompa portabel, 20 gulung selang berdiameter 1,5 inci, 20 unit jet shooter, serta peralatan manual untuk membuka jalur dan mengendalikan api.
"Upaya pemadaman dilakukan secara terpadu, baik melalui jalur darat maupun udara. Dua unit helikopter water bombing juga digunakan untuk menjangkau area yang sulit diakses tim pemadam," ujarnya.
Yuni menjelaskan, petugas di lapangan dibagi ke sejumlah tim untuk memetakan kondisi kebakaran, membuka akses menuju titik api, serta melakukan pemadaman secara langsung.
Dari upaya pemadaman darat, sekitar 1,2 hektare area dilaporkan berhasil dipadamkan. Meski demikian, petugas masih menemukan titik api di lokasi yang sebelumnya telah mendapat penanganan.
Karena itu, penyisiran terus dilakukan untuk memastikan api tidak kembali menyala dan meluas ke area lain.
"Penanganan belum berhenti setelah api di satu bagian berhasil dipadamkan. Tim masih melakukan penyisiran karena dari hasil pemantauan masih ditemukan titik api di area yang sebelumnya sudah dilakukan pemadaman," jelasnya.
Yuni mengungkapkan, medan yang sulit dan terbatasnya sumber air menjadi kendala utama dalam proses pemadaman karhutla di TNWK.
Di Grid 30 U, jarak titik api menuju Sungai Way Pegadungan mencapai sekitar tiga kilometer. Sementara titik api di Grid 31 T berjarak sekitar 1,7 kilometer dari sumber air tersebut.
"Jarak titik api dengan sumber air menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman. Kondisi di lapangan juga cukup sulit karena berada di area yang aksesnya terbatas dan sumber air mengalami kekeringan," katanya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, petugas membuka jalur pemadaman baru sepanjang sekitar satu kilometer agar dapat menjangkau titik kebakaran dan memperoleh akses sumber air yang lebih dekat.
Sementara itu, pemadaman dari udara dilakukan dalam dua sortie. Pada sortie pertama, penyiraman dilakukan di area sekitar empat hektare dari perkiraan luas kebakaran mencapai 15 hektare.
Adapun pada sortie kedua, intervensi dilakukan di area sekitar tiga hektare dari perkiraan luas kebakaran sekitar 13 hektare.
Meski pemadaman terus dilakukan, total luas lahan yang terbakar hingga kini belum dapat dipastikan. Kondisi tersebut dipengaruhi medan yang sulit serta perkembangan titik api yang masih dipantau petugas.
"Untuk luasan lahan yang terbakar saat ini belum dapat dipastikan. Tim masih melakukan pemantauan dan penanganan secara berkelanjutan terhadap titik-titik api yang terdeteksi," ungkap Yuni.
Hingga Rabu (30/9), pemantauan dan penanganan karhutla di kawasan TNWK masih berlangsung. Polda Lampung juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan titik api dan mencegah kebakaran meluas.
Karhutla di kawasan TNWK menjadi perhatian karena kawasan konservasi tersebut merupakan habitat penting bagi gajah Sumatera dan satwa liar lainnya. Upaya pemadaman dilakukan untuk mengendalikan kebakaran sekaligus melindungi ekosistem di dalam kawasan taman nasional tersebut.
