Hujan yang mengguyur Kota Jambi dan sejumlah wilayah Provinsi Jambi pada Kamis (26/9/2026) merupakan hujan alami. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan hujan tersebut bukan hasil Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun BMKG Jambi, Jaya Martua Sinaga, mengatakan hujan yang terjadi merupakan bagian dari dinamika atmosfer yang memang berpotensi menghasilkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Jambi.
"Hujan yang terjadi di Jambi ini merupakan hujan alami, bukan karena OMC," kata Jaya kepada detikSumbagsel, Kamis (24/9/2026)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jaya menyebut, bahwa guyuran hujan yang terjadi di daerah Jambi sejak beberapa hari terakhir lantaran memang ada proses pertumbuhan awan hujan di wilayah Jambi. Dimana, pertumbuhan awan hujan itu membuat daerah Jambi menghasilkan hujan.
"Meski hujannya bersifat lokal, jadi tidak semua merasakan," ujar Jaya.
Sejauh ini, hujan yang mengguyur daerah Jambi itu terjadi dengan intensitas ringan, sedang hingga lebat. Namun, kondisi itu tidak semuanya merata lantaran bersifat lokal.
Tidak hanya itu, BMKG memang telah memprakirakan sebelumnya bahwa Jambi akan berpeluang hujan pada periode 21-24 September. Kondisi atmosfer yang dinamis memungkinkan hujan tetap tumbuh secara lokal meski wilayah Jambi masih berada dalam periode kemarau.
Hujan ini, bahkan juga menjadi kabar baik di tengah kondisi karhutla yang sempat menyebabkan kabut asap pekat dalam beberapa pekan terakhir. Guyuran hujan juga selain membantu meredakan kawasan lahan terbakar, akan tetapi juga membantu memperbaiki kualitas udara di Jambi terutama Kota Jambi.
Jaya menjelaskan, hujan alami seperti ini tetap berperan dalam membantu pemulihan kondisi lingkungan, terutama ketika terjadi di wilayah yang mengalami kekeringan dan karhutla.
"Dengan adanya hujan, tentu kondisi lingkungan menjadi lebih basah. Mudah-mudahan hujan bisa terus terjadi secara merata dan kondisi udara juga membaik," ujarnya.
Meski demikian, hujan yang turun saat ini belum berarti ancaman karhutla telah berakhir. BMKG sebelumnya mengingatkan kondisi kemarau masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai, sementara hujan di tengah musim kering dapat bersifat lokal dan tidak selalu merata.
Apalagi, kualitas udara di Kota Jambi masih berada pada kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Berdasarkan data IQAir pada hari ini sekitar pukul 11.00 WIB, dari data indeks kualitas udara (AQI) tercatat 136.
Polutan utama yang terpantau adalah PM2.5 dengan konsentrasi 49,8 µg/m³. Kondisi ini menunjukkan meski hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Jambi, kualitas udara belum sepenuhnya pulih. Kelompok sensitif tetap perlu membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama jika kondisi udara kembali memburuk.
"Kita berharap hujan alami ini bisa terus membantu memperbaiki kondisi Jambi, terutama mengurangi asap akibat karhutla. Tetapi masyarakat tetap perlu waspada karena hujan tidak selalu turun merata di seluruh wilayah," jelas Jaya.
Sementara itu, kondisi kabut asap akibat karhutla di sekitar Bandara Sultan Thaha Jambi mulai menipis setelah hujan mengguyur Jambi. Situasi tersebut berdampak positif terhadap operasional penerbangan yang dalam tiga hari terakhir berjalan normal tanpa adanya penundaan akibat jarak pandang rendah.
Executive General Manager (EGM) Bandara Sultan Thaha Jambi, Ardon Mabrun, mengatakan membaiknya kondisi udara di sekitar bandara menjadi kabar baik bagi operasional penerbangan.
"Alhamdulillah, dengan membaiknya kadar asap di sekitar bandara tentu menjadi kabar baik. Tiga hari terakhir tidak ada delay atau penundaan penerbangan karena visibility rendah di sekitar Bandara Sultan Thaha Jambi," kata Ardon.
Kondisi tersebut berbeda dengan situasi beberapa hari sebelumnya. Kabut asap karhutla sempat cukup pekat menyelimuti kawasan Kota Jambi dan sekitar bandara sehingga jarak pandang menurun. Sejumlah penerbangan bahkan mengalami keterlambatan hingga ada yang harus dialihkan ke bandara lain karena kondisi visibility berada di bawah batas aman operasional.
Kini, setelah hujan turun dan kabut asap berangsur menipis, aktivitas penerbangan kembali berjalan seperti biasa. Pada pagi ini, sejumlah maskapai seperti Garuda Indonesia, Citilink dan Batik Air juga masih menunggu jadwal keberangkatan dari Bandara Sultan Thaha Jambi.
Ardon berharap membaiknya kondisi cuaca dan kualitas udara dapat terus bertahan sehingga aktivitas penerbangan tidak kembali terganggu oleh kabut asap.
"Harapan kita tentu karhutla di Jambi dan sekitarnya segera berakhir. Dengan begitu, kabut asap tidak lagi mengganggu jadwal dan operasional penerbangan di Bandara Sultan Thaha Jambi. Kami berharap kondisi seperti ini terus membaik dan penerbangan dapat berjalan normal," pungkas Ardon.
