Setelah keluar hasil tes DNA, jenazah pria yang ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu, dinyatakan sebagai salah satu ABK Arupadatu 1, pembawa lima jurnalis yang hilang. Jenazah ABK tersebut telah diberangkatkan pukul 06.05 WIB menggunakan pesawat menuju Bandara Soetta Cengkareng.
Kabid Humas Polda Bengkulu, Kombes Imam Wijayanto mengatakan jenazah salah satu ABK yang ditemukan di Pulau Enggano atas nama Surahman diberangkatkan ke Jakarta menggunakan pesawat penerbangan pagi pukul 06.05 WIB.
"Jenazah berangkat dari Rumah Sakit Bhayangkara pukul 06.05 WIB, tujuan ke Jakarta menggunakan Batik Air pagi," kata Imam, Kamis (24/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Imam menjelaskan, pemberangkatan jenazah didampingi Kabid Dokes Polda Bengkulu Kombes Effri Susanto menuju Jakarta untuk dan akan diserahkan di Bandara Soetta ke pihak Polda Banten.
"Jenazah sesampai di Bandara Soetta langsung diserahkan," jelas Imam.
Diketahui, Jenazah yang ditemukan oleh nelayan di wilayah Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, (12/9/2026) lalu dipastikan merupakan salah satu korban hilang kontak Speedboat Arupadatu 1 yang dilaporkan hilang kontak pada (7/9/2026).
Korban diketahui bernama Sukarman, yang merupakan Anak Buah Kapal (ABK) Speedboat Arupadatu 1. Kepastian identitas korban diperoleh berdasarkan hasil pemeriksaan DNA yang dilakukan oleh Tim DVI Polda Bengkulu.
Hasil pemeriksaan DNA tersebut menunjukkan kecocokan dengan DNA anak korban, Yayat, sehingga secara medis forensik korban dapat diidentifikasi sebagai Sukarman. Proses identifikasi membutuhkan waktu sekitar 10 hari dan hasil pemeriksaan DNA dinyatakan selesai pada (22/9/2026).
Sebelumnya, jenazah ditemukan oleh seorang nelayan di wilayah Pulau Enggano, Bengkulu Utara, dan kemudian dievakuasi oleh Tim SAR Gabungan Bengkulu pada 12 September 2026, atau pada hari kelima pelaksanaan Operasi SAR.
Sementara itu, Operasi SAR terhadap insiden hilang kontak Speedboat Arupadatu 1 telah dilaksanakan sejak 08 - 18 September 2026. Setelah operasi dihentikan, kegiatan pencarian dilanjutkan melalui pemantauan dan koordinasi. Namun hingga 23 September 2026, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan korban lainnya maupun tanda-tanda keberadaan Speedboat Arupadatu 1.
