Basarnas Lampung masih memantau keberadaan Speedboat Arupadatu 1 yang hilang kontak di Perairan Selat Sunda. Pemantauan dilakukan dengan berkoordinasi dengan sejumlah pihak, mulai dari vessel traffic service (VTS), masyarakat pesisir, BPBD hingga pemerintah daerah.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Lampung Deden Ridwansyah mengatakan koordinasi tersebut dilakukan untuk mempercepat penyampaian informasi apabila ada temuan yang berkaitan dengan Arupadatu 1.
"Upaya yang kami lakukan adalah koordinasi baik itu dengan pihak-pihak terkait seperti VTS, kemudian masyarakat pesisir, BPBD, pemerintah daerah. Manakala ada yang menemukan jenazah agar segera melaporkan agar kami menindaklanjuti," kata Deden, Rabu (23/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain jenazah, Basarnas juga meminta informasi segera disampaikan apabila masyarakat atau pihak lain menemukan kapal maupun bagian dari Speedboat Arupadatu 1.
Saat ini, Basarnas Lampung belum kembali mengerahkan alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk melakukan pencarian secara fisik. Langkah selanjutnya masih menunggu keputusan Search Mission Coordinator (SMC).
"Kami nunggu informasi dari SMC seperti apa. Apakah ini dibuka lagi dengan menggerakkan alutsista atau seperti apa," ujarnya.
Speedboat Arupadatu 1 dilaporkan hilang kontak pada 7 September 2026. Kapal tersebut membawa 8 orang yang terdiri atas 5 jurnalis dan 3 kru saat akan meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Operasi SAR gabungan kemudian dilakukan pada 8-18 September 2026. Dalam operasi tersebut, satu jenazah ditemukan di wilayah Pulau Enggano, Bengkulu Utara, pada 12 September 2026.
Jenazah tersebut kemudian teridentifikasi sebagai Sukarman, salah satu kru Arupadatu 1. Identitasnya dipastikan melalui pemeriksaan DNA oleh Tim DVI Polda Bengkulu.
Setelah operasi SAR dihentikan, Basarnas tetap melakukan pemantauan dan koordinasi dengan berbagai pihak. Hingga 23 September 2026, belum ada informasi mengenai keberadaan tujuh orang lainnya maupun Speedboat Arupadatu 1.
