Kualitas udara di Jambi memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Jambi mengingatkan masyarakat agar mengurangi paparan asap, terutama anak-anak, lansia, serta warga yang harus beraktivitas di luar rumah.
Ketua IDI Wilayah Jambi, Dr. Zuhdi Darma, mengatakan masyarakat perlu membatasi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara masih buruk. Menurutnya, mengurangi paparan menjadi langkah penting untuk menjaga saluran pernapasan.
"Kalau tidak perlu keluar rumah, sebisa mungkin kita hindari keluar rumah," kata Zuhdi kepada wartawan, Rabu (16/09/2026)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zuhdi menjelaskan, paparan asap dalam waktu lama dapat membuat partikel asap masuk ke saluran pernapasan. Kondisi tersebut dapat memicu iritasi, terutama ketika masyarakat berada di lingkungan dengan konsentrasi asap yang tinggi.
"Partikel-partikel asap yang melewati hidung hingga tenggorokan akan mengiritasi," ujarnya.
Karena itu, warga yang memang harus keluar rumah diminta menggunakan masker dengan baik. Penggunaan masker dapat membantu mengurangi masuknya partikel asap ke saluran pernapasan.
Selain masker, Zuhdi meminta masyarakat memperhatikan asupan cairan. Warga disarankan cukup minum dan tidak membiarkan tenggorokan dalam kondisi kering selama terpapar udara berasap.
"Cukup cairan untuk minum. Tenggorokan jangan dibiarkan kering," kata Zuhdi.
Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia juga diminta mendapat perhatian lebih. Demikian pula masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan, karena durasi berada di tengah paparan asap dapat lebih lama.
Zuhdi juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi tubuh. Keluhan seperti batuk, tenggorokan terasa kering atau sakit, mata perih hingga sesak napas tidak sebaiknya diabaikan.
"Kalau sudah mulai ada keluhan, seperti batuk, tenggorokan kering atau sakit, mata perih, sampai sesak napas, kita harus lebih waspada," ujarnya.
Mengenai konsumsi vitamin dan suplemen, Zuhdi menyebut hal tersebut dapat dilakukan masyarakat. Namun, ia menegaskan pemenuhan kebutuhan cairan dan mengurangi paparan asap tetap menjadi hal yang penting.
"Boleh suplemen, boleh vitamin-vitamin. Tapi yang lebih penting cairan," tegasnya.
Kabut asap karhutla tidak hanya mengganggu jarak pandang dan aktivitas warga. Kondisi udara yang memburuk juga menjadi perhatian dari sisi kesehatan, terutama ketika paparan berlangsung dalam waktu lama.
IDI Jambi pun mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap paparan kabut asap sebagai kondisi biasa. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan perlindungan apabila harus beraktivitas di luar.
"Kalau tidak ada keperluan, sebaiknya jangan keluar rumah. Kurangi paparan asap dan jaga kondisi tubuh," tutup Zuhdi.
Diketahui, kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak 2 hari kemarin di Jambi sangat begitu pekat. Kondisi itu bahkan membuat jarak pandang di Bandara Sultan Thaha Jambi sempat turun hingga 700 meter dan mengganggu aktivitas penerbangan.
Data kualitas udara dari IQAir juga menunjukkan sejumlah wilayah di Provinsi Jambi masih berada dalam kondisi tidak sehat. Bahkan, data tersebut juga menunjukkan tingkat pencemaran yang begitu tinggi yang mana berada di angka 228 dimana kategori udara Kota Jambi sangat tidak sehat.
