ISPU Jambi Memburuk, WKS Bagikan 6.000 Masker untuk Mahasiswa

Jambi

ISPU Jambi Memburuk, WKS Bagikan 6.000 Masker untuk Mahasiswa

Ferdi Almunanda - detikSumbagsel
Rabu, 16 Sep 2026 01:01 WIB
Pembagian masker kepada mahasiswa Jambi
Foto: Pembagian masker kepada mahasiswa Jambi (Dok. Istimewa)
Jambi -

Kualitas udara di Jambi memburuk akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi tersebut membuat PT Wirakarya Sakti (WKS) bersama Fakultas Hukum Universitas Jambi (FH UNJA) membagikan 6.000 masker kepada mahasiswa dan warga kampus.

Kepala Humas PT WKS Taufik Qurochman mengatakan pembagian masker dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk membantu mahasiswa dan warga kampus mengurangi paparan asap.

"Kondisi kabut asap yang terjadi saat ini tentu menjadi perhatian kita bersama. Kami berharap masker yang dibagikan ini dapat membantu mahasiswa dan warga kampus menjaga kesehatan, khususnya saat beraktivitas di luar ruangan," kata Taufik, dalam keterangan tertulis yang diterima detikSumbagsel, Selasa (15/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pembagian masker dilakukan di sejumlah area kampus UNJA. Mahasiswa FH UNJA turut turun langsung membagikan masker kepada mahasiswa dan warga yang masih beraktivitas di tengah kondisi udara yang dipenuhi asap.

Taufik mengatakan penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan melakukan pencegahan dan pemadaman kebakaran. Dampak yang dirasakan masyarakat juga perlu mendapat perhatian.

ADVERTISEMENT

"Pengendalian karhutla membutuhkan kerja bersama dari berbagai pihak. Tidak hanya bagaimana mencegah dan menangani kebakaran, tetapi juga bagaimana mengurangi dampaknya terhadap masyarakat," ujarnya.

Sebanyak 6.000 masker tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa. Masker juga dibagikan kepada dosen, tenaga kependidikan, petugas keamanan, pelaku usaha, serta warga yang beraktivitas di lingkungan kampus.

Taufik berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan selama kondisi kualitas udara Jambi masih memburuk. Dia juga mengajak seluruh pihak ikut memperhatikan kesehatan masyarakat di tengah dampak karhutla.

"Kami berharap bantuan ini bisa memberikan manfaat bagi mahasiswa dan warga kampus. Penanganan karhutla adalah tanggung jawab bersama, dan perlindungan terhadap masyarakat dari dampak asap juga harus berjalan beriringan," pungkas Taufik.

Berdasarkan data pemantauan kualitas udara pada 15 September 2026, indeks kualitas udara di Jambi tercatat 262 dengan PM2.5 sebagai salah satu parameter polutan utama.

Kondisi udara tersebut menjadi perhatian karena masyarakat masih harus menjalankan aktivitas sehari-hari di tengah kabut asap. Penggunaan masker menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan partikulat dari udara yang tercemar.

Salah seorang mahasiswa FH UNJA, Ratu Nyimas, mengatakan pembagian masker tersebut sangat membantu mahasiswa. Menurutnya, kabut asap masih terasa sehingga masker dibutuhkan saat beraktivitas di luar ruangan.

"Terima kasih banyak kepada teman-teman FH UNJA dan PT WKS. Saat ini memang sedang musim kabut asap, sehingga masker ini sangat bermanfaat, terutama bagi kami mahasiswa yang tinggal di kos," ujar Ratu.

Hal senada disampaikan Abim dari BEM FH UNJA. Dia menilai pembagian masker dilakukan di tengah kondisi yang memang sedang dibutuhkan mahasiswa.

"Pembagian masker ini merupakan agenda yang sangat baik bagi mahasiswa FH maupun mahasiswa UNJA secara umum, mengingat kondisi kabut asap di Jambi hari ini masih cukup tebal," katanya.

Untuk diketahui, kabut asap dengan kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat membuat pemerintah daerah mengambil langkah untuk melindungi kesehatan anak-anak. Pemerintah Kota Jambi dan Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah selama tiga hari dan mengalihkan pembelajaran ke sistem daring.

Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi menyusul kondisi udara yang memburuk akibat kabut asap karhutla yang semakin pekat. Anak-anak dinilai menjadi kelompok yang perlu mendapat perlindungan lebih dari paparan udara tercemar.

Namun, kondisi berbeda terlihat di lingkungan perguruan tinggi. Hingga saat ini, sejumlah kampus di Jambi masih menjalankan perkuliahan secara tatap muka meski kualitas udara berada pada kategori tidak sehat, bahkan berbahaya.

Mahasiswa tetap mengikuti perkuliahan di ruang kelas dan menjalankan aktivitas kampus seperti biasa. Belum ada kebijakan umum dari perguruan tinggi di Jambi untuk menghentikan sementara perkuliahan tatap muka atau mengalihkannya ke sistem daring akibat kabut asap.

Situasi tersebut membuat mahasiswa tetap harus beraktivitas di tengah paparan asap, termasuk ketika melakukan perjalanan menuju dan dari kampus. Penggunaan masker pun menjadi salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi paparan polusi udara selama kondisi kabut asap belum membaik.



(dai/dai)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads