Jumlah Hotspot 2026 di Sumsel Lampaui Bencana Karhutla Terparah 2015

Sumatera Selatan

Jumlah Hotspot 2026 di Sumsel Lampaui Bencana Karhutla Terparah 2015

Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Senin, 14 Sep 2026 08:00 WIB
Ilustrasi titik panas atau hotspot
Ilustrasi titik panas atau hotspot (Foto: ChatGPT)
Palembang -

Jumlah hotspot atau titik panas yang terjadi pada tahun 2026 di Sumatera Selatan (Sumsel), melampaui bencana karhutla yang terjadi pada 2015 silam. Hotspot di Sumsel sepanjang Januari-12 September 2026 tercatat sebanyak 27.861 titik, sementara pada tahun 2015 silam tercatat 27.043 titik.

"Hingga 12 September 2026, jumlah hotspot yang terdeteksi di Sumsel sebanyak 27.861 titik," ujar Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, Minggu (13/9/2026).

Sudirman mengungkapkan, jumlah tahun ini lebih tinggi dari periode karhutla terparah pada 2015. Jumlah tahun ini lebih tinggi 258 titik dibandingkan 2015.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hotspot pada saat Karhutla terparah 2015 lalu hanya 27.043 titik. Tahun ini memang fenomena El Nino lebih panjang dan tinggi sehigga membuat angkanya terus naik," katanya.

Dari jumlah deteksi hotspot tahun ini, wilayah OKI paling banyak terpantau dengan 8.170 titik. Berikutnya Banyuasin 4.182 titik, Muba 4.181 titik, Muara Enim 3.593 titik, Ogan Ilir 1.225 titik, Mura 1.076 titik, dan OKU Timur 1.208 titik. Sementara wilayah lain di kisaran puluhan hingga ratusan titik.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena musim kemarau masih berlangsung. Peningkatan jumlah hotspot berpotensi meningkatkan risiko terjadinya karhutla, terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut dan kawasan rawan terbakar.

BPBD Sumsel bersama instansi terkait terus melakukan pemantauan terhadap titik panas serta upaya pencegahan dan penanganan karhutla. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan karena dapat memicu meluasnya kebakaran dan menimbulkan kabut asap.

Sudirman menegaskan pemantauan hotspot akan terus dilakukan untuk mengantisipasi titik panas yang berpotensi menjadi kebakaran.

"Yang jelas ini menjadi perhatian kita bersama. Hotspot terus kita pantau dan penanganan dilakukan bersama dengan instansi terkait agar titik api tidak berkembang menjadi karhutla yang lebih luas," ujarnya.



(csb/csb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads