Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Desa Sungai Aur, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare.
"Berdasarkan hasil pengecekan, luas lahan yang terbakar di Desa Sungai Aur diperkirakan mencapai ±20 hektare," kata Kabid Humas Polda Jambi Kombes Erlan Munaji, Minggu (13/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seluruh unsur terkait terus melakukan penanganan di lapangan. Pemadaman dan pendinginan dilakukan untuk memastikan api tidak kembali muncul dan kebakaran tidak meluas," sambungnya.
Penanganan pemadaman api di lahan itu, kata Erlan, juga ditangani oleh satuan Brimob Polda dan jajaran serta TNI, Manggala Agni, BPBD dan pihak lainnya. Saat ini, anggota juga masih di tempatkan di lokasi untuk proses pendinginan agar api tidak kembali muncul.
"Peralatan nozel sunbut atau suntik gambut, jet shoter atau alat semprot punggung, serta cairan pemadam khusus lahan gambut x-fire kita gunakan untuk proses pemadaman di lahan gambut itu. Metode ini menjadi salah satu upaya untuk membantu proses pemadaman, khususnya pada lahan yang memiliki karakteristik gambut," jelasnya.
Namun begitu, kata Erlan, dalam proses pemadaman api pastinya pihaknya mengutamakan keselamatan personel. Akan tetapi, percepatan pemadaman juga diperkuat supaya api tidak meluas.
"Bapak Kapolda Jambi menegaskan bahwa penanganan karhutla harus dilakukan secara cepat, terukur dan terpadu. Seluruh personel di lapangan terus bergerak bersama instansi terkait untuk melakukan pemadaman, pendinginan, sekaligus memastikan api tidak kembali meluas," ujarnya.
Erlan juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran, terutama di tengah kondisi lahan yang mudah terbakar.
"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Pencegahan menjadi kunci utama, karena dampak Karhutla dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas," ujarrnya.
Berdasarkan data terbaru Pemprov Jambi hingga September 2026, total luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 2.960,47 hektare. Angka tersebut merupakan akumulasi kejadian karhutla sejak awal Januari hingga periode laporan terbaru September 2026.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi Bachyuni Deliansyah mengatakan penanganan karhutla masih menjadi perhatian karena kondisi lahan di sejumlah wilayah masih mudah terbakar.
"Karhutla masih menjadi perhatian kita. Walaupun di beberapa daerah kondisi sudah mulai menurun, kita tetap meminta seluruh tim dan masyarakat tidak lengah karena potensi kebakaran masih ada," katanya.
Menurut Bachyuni, penanganan karhutla tidak hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Pemantauan titik panas, patroli kawasan rawan, pemadaman awal hingga pendinginan harus dilakukan secara berkelanjutan.
"Yang paling penting adalah bagaimana api yang ditemukan bisa segera ditangani dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. Setelah pemadaman juga harus dilakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada api atau bara yang kembali menyala," katanya.
Tidak hanya itu, Kabupaten Muaro Jambi hingga kini masih menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian dalam penanganan karhutla karena masih ditemukan kejadian kebakaran lahan.
Dia mengatakan kondisi lahan yang kering membuat api berpotensi cepat menjalar, terutama apabila berada di kawasan dengan vegetasi mudah terbakar.
Karena itu, masyarakat diminta ikut berperan dalam mencegah munculnya titik api baru. Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembukaan lahan secara di bakar berdasarkan arahan Gubernur Jambi.
"Sebelumnya bapak Gubernur sudah mengingatkan agar pembukaan lahan baru jangan dilakukan dengan cara di bakar. Pemprov akan membantu masyarakat dalam program Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla)," ujarnya.
