Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, masih belum membaik hingga kini. Partikulat halus atau PM2.5 di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang masih tercatat level berbahaya atau hitam dengan nilai 325,4 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Sabtu (12/9/2026) pukul 03.00 WIB.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel Wandayantolis mengatakan kualitas udara Palembang masih belum menunjukkan perbaikan. Kondisinya masih buruk akibat dari asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi.
"Kualitas udara Palembang masih belum membaik. Meskipun konsentrasi partikulat halus mengalami penurunan setelah mencapai titik tertinggi pada dini hari, kualitas udara masih berada pada kategori yang perlu diwaspadai pada pagi ini," ujarnya, Sabtu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada pukul 04.00 WIB, konsentrasi partikulat halus tercatat sebesar 171,5 µg/m³. Angka tersebut berada pada kategori merah atau sangat tidak sehat. Kondisi tersebut masih berlanjut pada pukul 05.00 WIB. Konsentrasi PM2.5 turun menjadi 164,7 µg/m³.
"Tetapi status kualitas udara masih berada pada kategori merah atau sangat tidak sehat," katanya.
Memasuki pagi hari, konsentrasi partikulat halus kembali mengalami penurunan. Namun, kualitas udara Palembang belum masuk kategori sehat.
Berdasarkan pemantauan, konsentrasi PM2.5 pada pagi hari berada di kisaran 132,7 hingga 148,5 µg/m³. Angka tersebut berada pada kategori kuning atau tidak sehat.
Masyarakat diimbau tetap memperhatikan kondisi kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Termasuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.
"Masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan. Sebaiknya tetap menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan," ujarnya.
