Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Kabupaten Lampung Selatan mulai menurun. Namun, aktivitas magma di bawah gunung api tersebut masih terdeteksi sehingga potensi erupsi kembali tetap ada.
Pengamat Kebencanaan Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Dr Ikah Ning P Permanasari mengatakan data kegempaan yang dipantau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan adanya penurunan aktivitas seismik GAK.
Meski demikian, sejumlah data masih menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa aktivitas magma di bawah GAK masih berlangsung.
"Seismiknya memang sudah menurun, tapi di data masih ada yang tinggi. Masih ada aktivitas magma di bawah yang memengaruhi GAK," kata Ikah, Kamis (10/9/2026).
Dia mengatakan kondisi GAK saat ini masih fluktuatif. Karena itu, penurunan aktivitas seismik belum bisa menjadi alasan untuk menganggap aktivitas erupsi telah berakhir.
"Jadi kita masih harus menunggu. Mudah-mudahan tidak ada lonjakan aktivitas lagi," ujarnya.
Ikah menyebut erupsi susulan masih mungkin terjadi. Menurutnya, aktivitas gunung api harus terus dipantau berdasarkan data karena karakter setiap gunung berbeda.
"Erupsi bisa kembali terjadi. Kalau kita bicara gunung, kita bicara data," katanya.
Baca juga: GAK Erupsi Lagi Pagi Ini Selama 17 Detik |
Di sisi lain, Ikah menilai erupsi yang terjadi pada GAK dapat menjadi bagian dari proses pelepasan energi di dalam gunung. Erupsi yang mengeluarkan material dan energi secara bertahap dinilai dapat mencegah terjadinya akumulasi energi dalam jumlah besar.
"Untuk GAK, aktivitas seperti ini sebenarnya bagus ketika erupsi mengeluarkan energi. Tidak ada akumulasi di sana, keluar sedikit-sedikit sambil dia bertumbuh dan erupsi," jelasnya.
Sementara itu, kondisi kualitas udara di Lampung mulai menunjukkan perbaikan setelah terdampak abu vulkanik GAK.
Ikah mengatakan hasil pengukuran yang dilakukan ITERA menunjukkan sejumlah parameter kualitas udara sudah mengalami penurunan dibandingkan pengukuran sebelumnya.
"Kalau yang dilaporkan dari Pemprov sudah membaik. ITERA juga sudah melakukan pengukuran, cukup jauh menurun dari minggu lalu," ungkapnya.
Namun, partikel debu masih menjadi perhatian. Dari sejumlah parameter yang diukur, debu masih tercatat relatif tinggi.
"Kalau dari parameter lainnya sudah turun dari baku mutu. Yang masih tinggi di ITERA tadi debunya," katanya.
Ikah tetap mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker. Hal itu untuk mengantisipasi partikel debu yang masih berada di udara, termasuk kemungkinan bercampur dengan abu vulkanik.
"Memakai masker tetap karena kita tidak tahu debu ini bercampur dengan abu vulkanik atau seperti apa," ujarnya.
Simak Video "Video: Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Jangkau Lampung hingga Jawa Barat"
(csb/csb)