Musim kemarau membawa ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan (Sumsel). Kondisi surutnya air di lahan lebak dimanfaatkan Dinas Pertanian Sumsel untuk memperluas areal tanam padi, terutama pada lahan yang sebelumnya terendam cukup lama.
"Sumatera Selatan 73 persen lahannya itu ada lahan rawa. Ini berkah bagi kita. Selama ini lahan itu tergenang sembilan bulan bahkan lebih, tetapi ketika airnya turun bisa ditanami," kata Bambang, Selesa (15/9/2026).
Menurut Bambang, kondisi tersebut menjadi salah satu keuntungan bagi Sumsel dalam menjaga produksi padi di tengah musim kemarau. Lahan lebak yang mulai mengering dapat dimanfaatkan untuk mengejar penanaman sebelum kondisi menjadi terlalu kering.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya, produksi padi Sumsel pada periode Januari-Agustus 2026 justru tercatat meningkat sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data tersebut berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS).
"Alhamdulillah, dari hasil rilis BPS, Januari sampai Agustus 2026 dibanding Januari sampai Agustus 2025, produksi kita meningkat 5 persen," ujarnya.
Meski produksi meningkat, Bambang menegaskan pemerintah tetap mewaspadai ancaman kekeringan. Sejumlah langkah disiapkan untuk menjaga tanaman padi yang sudah tumbuh agar tidak mengalami kekurangan air.
Salah satunya dengan menyiagakan pompa untuk membantu lahan pertanian yang mulai terdampak kekeringan. Kelompok tani diminta segera melapor jika tanaman padi di lahannya mulai kekurangan air.
"Yang kita lakukan pertama, mengamankan pertanaman yang ada di lahan dengan mempersiapkan pompa pendampingan, jangan sampai kekeringan," jelasnya.
Di sisi lain, lahan lebak yang mengering juga menyimpan risiko lain, yakni potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Karena itu, pemerintah mendorong lahan yang berpotensi terbakar untuk dimanfaatkan menjadi lahan pertanian melalui program cetak sawah.
"Lahan-lahan rawa yang berpotensi menjadi karhutla ini harus kita jadikan sawah. Dengan dukungan pemerintah pusat melalui cetak sawah, kita usulkan agar tidak terjadi kebakaran hutan maupun rawa yang menyebabkan asap dan meluas ke lahan lain," katanya.
Bambang menyebut Sumsel memiliki potensi lahan lebak yang cukup luas. Sekitar 115 ribu hektare lebak tengahan dinilai berpotensi dimanfaatkan untuk budidaya padi, menyesuaikan kondisi genangan dan surutnya air.
"Jadi meski karhutla dan sedang mengalami kekeringan,tapi Sumsel dapat menyesuaikan kondisi genangan dan surutnya air," ujarnya.
