Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali mengalami erupsi pada Rabu (9/9/2026) dini hari. Erupsi terjadi sekitar pukul 00.47 WIB dan terekam di seismograf selama 28 detik.
Kepala Pos Pantau GAK Lampung Selatan Suwarno mengatakan aktivitas vulkanik GAK masih terpantau melalui rekaman kegempaan.
"Erupsi terjadi pada pukul 00.47 WIB. Tinggi kolom erupsi tidak teramati karena kondisi gunung tertutup kabut," kata Suwarno.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 51 milimeter. Selain gempa erupsi, sejumlah aktivitas kegempaan lain juga tercatat selama periode pengamatan.
"Selain gempa erupsi, terekam juga gempa low frequency, gempa hybrid atau fase banyak, serta tremor menerus. Aktivitas ini masih terus kami pantau," ujarnya.
Dalam pengamatan, tercatat satu kali gempa low frequency dengan amplitudo 16 mm dan durasi 6 detik. Kemudian satu kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 26 mm dan durasi 4 detik.
Sementara itu, tremor menerus terekam dengan amplitudo 2-7 mm dan amplitudo dominan 3 mm.
Kondisi puncak GAK saat pengamatan tertutup kabut dengan tingkat 0-III. Asap kawah tidak teramati.
Cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut. Suhu udara tercatat sekitar 26-26,3 derajat Celsius dengan kelembapan 82-84 persen.
Suwarno mengimbau masyarakat maupun wisatawan tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Aktivitas juga tidak diperbolehkan dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
"Kami mengimbau masyarakat, pengunjung dan wisatawan untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Ikuti rekomendasi dan informasi resmi dari petugas," katanya.
Erupsi terbaru ini menambah catatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung. Masyarakat diimbau tetap tenang, tidak mendekati kawasan terlarang, dan mengikuti perkembangan informasi dari pihak berwenang.
