Sidak Beras Premium 5 Kg di Ritel, Sekda Sumsel: Barang Ada, Volume Berkurang

Sumatera Selatan

Sidak Beras Premium 5 Kg di Ritel, Sekda Sumsel: Barang Ada, Volume Berkurang

Reiza Pahlevi - detikSumbagsel
Rabu, 02 Sep 2026 08:00 WIB
Sekda Sumsel bersama instansi sidak beras 5 kg yang langkah.
Sekda Sumsel bersama instansi sidak beras 5 kg yang langkah. (Foto: Istimewa)
Palembang -

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan melakukan sidak ke sejumlah ritel modern di Palembang, terkait langkanya beras premium kemasan 5 kg. Kondisi ini banyak dikeluhkan konsumen, khususnya masyarakat yang biasa membeli ukuran tersebut.

Sekda Sumsel Edward Candra mengatakan dari hasil pengecekan stok beras premium kemasan 5 kg di gudang ritel modern mengalami penurunan dibandingkan kondisi normal. Hal itu terlihat dari peninjauan yang dilakukan di beberapa titik.

"Kita sudah melihat ketersediaan beras, utamanya beras premium kemasan 5 kg. Memang kalau kita lihat, stok berkurang dari rutin biasanya," ujar Edward, Selasa (1/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, berkurangnya stok tersebut disebabkan pasokan dari pabrik maupun penggilingan beras yang juga terbatas.

"Kita tidak bisa mengatakan dibatasi. Sejauh ini barangnya ada, hanya sedikit. Biasanya yang mereka masukkan itu lebih banyak, sekarang berkurang. Barangnya ada, tetapi volumenya berkurang," katanya.

ADVERTISEMENT

Karena itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumsel bersama Polda Sumsel akan mengecek langsung kondisi di tingkat produsen, untuk mengetahui penyebab berkurangnya produksi dan pasokan.

"Setelah ini, TPID juga akan melihat langsung ke pabrik. Kita akan melihat persoalan keterbatasan stok. Ini baru salah satu, mungkin tempat lain juga mengalami keterbatasan," ujarnya.

Untuk mengantisipasi kekurangan beras premium, Pemprov Sumsel mendorong penambahan pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog. Beras itu untuk mengantisipasi permintaan kemasan 5 kg.

"Kita mendorong penambahan beras SPHP, baik yang didistribusikan melalui depo-depo atau gudang maupun ke masyarakat secara langsung," jelas Edward.

Selain itu, operasi pasar murah (OPM) dan gerakam pangan mueah (GPM) yang telah beberapa kali dilakukan akan terus didorong untuk digelar setiap hari.

Sementara itu, Branch Merchandising Manager (BMM) PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk Palembang Ade Kosasih mengatakan distribusi beras premium di jaringan ritel modern di tempatnya mengalami penurunan signifikan.

"Biasanya ketersediaan beras premium sekitar 70 persen, sekarang hanya 10-15 persen," ujarnya.

Pasokan beras premium yang baru masuk pun, katanya, langsung didistribusikan ke gerai-gerai.

"Seperti tadi kami dapat 1.000 pak beras premium kemasan 5 kg dan 10 kg sebanyak 400 pax. Itu langsung habis didistribusikan ke gerai-gerai," katanya.

Dengan jaringan yang melayani sekitar 600 gerai, jumlah pasokan tersebut tidak mencukupi untuk memenuhi seluruh gerai. Selain itu, beberapa merek juga belum mendistribusikan kemasan 5 kg.

"Biasanya sekali masuk bisa 80 ton," katanya.

Sementara untuk beras SPHP kemasan 5 kg, dia menyebut pasokannya relatif lancar. Pihaknya masih mendapatkan lebih dari 4.000 pax beras SPHP kemasan tersebut.

Berdasarkan informasi yang diterima, keterbatasan beras premium salah satunya dipengaruhi kenaikan harga plastik yang berdampak terhadap biaya produksi.

"Masyarakat banyak membeli di ritel modern karena harganya sesuai HET. Kalau membeli di pasaran, bisa saja harganya lebih tinggi dari HET," jelasnya.

Sementara itu, Pimpinan Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel Ihsan mengatakan tingginya harga gabah turut berpengaruh terhadap harga beras yang dihasilkan. Harga gabah saat ini berada di kisaran Rp 7.700 per kg. Hal itu membuat biaya untuk beras premium menjadi naik.

"Kalau harga gabah Rp 7.700, belum lagi biaya produksi, packing dan lain-lain. Kalau ditotal, modalnya bisa sekitar Rp 16 ribu per kg untuk jenis beras premium," katanya.

"Jika harga di tingkat petani tinggi, di pasaran juga akan naik," imbuhnya.

Sementara Bulog, mendapatkan gabah dengan harga Rp 6.500 per kg. Nilai itu disebutnya masih memungkinkan untuk menjaga harga beras. Dia juga mengusulkan agar distribusi gabah ke luar daerah disesuaikan dengan kondisi pasokan Sumsel.



(csb/csb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads